Awalnya Tukang Parkir, Kini Berjualan Kolak

by -

Bagi Susi Parkir (46), bulan puasa membawa berkah tersen­diri. Pekerjaannya sebagai tukang parkir terhenti sementara. Di bulan suci ini, warga Kampung Babakanraya, RT 05/07, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga itu beralih berjualan kolak pisang di Jalan Raya Babakan. Betapa tidak! Keuntungannya berjualan kolak jauh lebih menggiurkan dibanding jaga parkiran. Alhasil, dalam sehari Susi bisa mengais keuntungan hingga Rp200.000.

SUDAH 15 tahun hingga saat ini selama Ramadan, Susi berjualan ma­kan untuk berbuka atau takjil. Peng­hasilannya sebagai petugas parkir rupanya tidak mencukupi kebutuhan­nya sehari-hari. “Tapi dengan berjua­lan takjil, Alhamdulillah keuangan keluarga bisa terbantu,” ujarnya.

Sejak pukul 07:00 WIB, Susi bersama sang suami mulai menyiapkan jajanan yang akan dijualnya. Mulai dari kolak pisang, kolak pacar cina, agar-agar, buras, asinan hingga mi kuning alias mi glosor. ”Kalau bulan puasa jualan kolak, kalau hari biasa jaga parkiran,” ujar ibu tiga anak itu.

Menurut Susi, pelanggan yang datang kebanyakan langganan lama. Ada pula mahasiswa dan warga yang melintas. Bahkan, ada yang sengaja pesan untuk acara buka bersama. Yang membedakan kolaknya dengan pedagang lain adalah rasa. “Kalau kolak saya tidak pakai pema­nis buatan, tapi gulanya asli,” tuturnya. “Satu bungkus kolak saya jual Rp5.000. Alhamdulillah kalau jualan di pinggir Ja­lan Babakan bisa mencapai untung Rp200.000 per hari,” sambungnya.

Susi menambahkan, pekerjaan apa pun jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas akan berbuah manis. Terbuk­ti, walaupun hanya tukang parkir dan jualan kolak tahunan, Susi bisa menyeko­lahkan ketiga anaknya hingga SMA. ”Saya berharap kepada pemerintah agar UKM kecil bisa dibantu permodalannya,” ha­rapnya.

(ads/b/yok/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *