Suami ternyata Mandul, Aku Dihamili Pria Lain (3)

by -

Malam itu aku menunggu suamiku pulang, kali ini aku tidak berpura- pura tidur, tak kupejamkan mataku walaupun sejenak. Akhirnya suamiku pulang, kuhirup bau bandannya, bau parfum pelacur itu. “Kau baru dari pelacur itu?” Tanyaku dan aku sangat terkejut dengan keberanianku menanyakan hal itu padanya. “Iya.”

HATIKU luluh lantak mendengar jawaban yang jujur itu, aku berharap ia berbohong, sungguh aku ingin kebohongan yang manis walau beracun.

“Kau mengkhianati aku, mas.”

“Aku mencintai Widuri.”

Sungguh, aku berharap apa yang diucap­kannya barusan adalah kebohongan tapi aku melihat kejujuran di mata itu. “Aku me­nikahimu untuk melahirkan anak-anakku, tapi kau tak kunjung hamil juga. “Aku baru saja berpikir apa kau pantas men­jadi ayah dari anakku kelak!” Mata itu menatapku terkejut, akhirnya aku ber­suara, akhirnya suaraku berguna juga.

“Lancang!” Teriak suamiku sambil menempel­eng aku, darah segar keluar dari sudut bi­birku. Aku tidak menangis, tidak, aku ber­sumpah takkan ada lagi setetes air matapun untuknya. Suamiku beranjak pergi dari ka­marku, malam itu ia tidak kembali.

Lelaki itu sedang duduk di ruang tamu dan menatapku penuh senyum, menyapaku penuh kerinduan. Andi adalah teman sepermain­anku sejak kecil, terakhir aku bertemu dengan­nya adalah di hari pernikahanku. “Gimana kabarmu Ti?”

“Baik, mas sendiri?” kataku balas bertanya

“Aku jadi buruh di Jakarta, hidup di Jakarta ternyata sulit Ti”

“Namanya juga kota besar mas”

“Aku kembali ke sini justru karena aku dipecat, situasi pabrik kacau, sebagian be­sar buruh dipecat “Sudahlah mas, terima aja, mungkin emang nasibmu lagi apes. Nggak usah macem-macem mas entar nasib kamu kayak Marsinah gimana?” Ka­taku ngeri dengan kisah Marsinah yang mati karena dia terlalu vokal.

“Pokoknya aku nggak mau tahu Ti, kita emang miskin, tapi jangan diem aja kalo diperlakukan sewenang- wenang.”Aku diam aja, Andi emang sulit diajak ngomong kalo udah pakai kata “pokoknya”, sulit diganggu gugat. Aku tak mau ambil pusing dengan masalahnya, yang jelas aku sudah memberi nasihat padanya. Andi berniat tinggal di desa selama beberapa bulan, kami memang cukup dekat, bahkan ia pernah mau me­lamarku, namun ia tidak punya keberanian yang cukup untuk itu.

(feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *