Tahun Pelajaran Baru, Guru Wajib Ngajar 40 Jam Per Minggu

by -

METROPOLITAN – Tahun pelajaran 2017/2018 ini, guru sudah diwajibkan me­menuhi ketentuan beban kerja 40 jam per minggu. Ketentuan ini berdasarkan Pera­turan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Dalam Permendikbud itu disebutkan, guru melaksanakan beban kerja selama pelaksanaan ketentuan hari sekolah yang dilaksanakan 40 jam selama lima hari dalam satu minggu.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendik­bud) Hamid Muhammad menjelaskan, dengan kewajiban ini, beban kerja guru tidak sekadar tatap muka melainkan seluruh komponen beban kerja dihitung dalam delapan jam per hari. “Ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 tahun 2017 yang merevisi PP Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru,” ujarnya dalam press briefing di kantor Kemen­dikbud, Jakarta.

Baca Juga  Pindah ke Online, Gerai Ponsel Sepi

Komponen beban kerja yang seluruhnya dihitung itu, kata Hamid, mulai dari mer­encanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, hingga melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegia­tan pokok.

Ketentuan pelaksanaan beban kerja 40 jam per minggu itu berlaku baik bagi guru yang bekerja di sekolah yang telah melaksanakan ketentuan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 (lima hari per minggu) maupun guru yang bekerja di sekolah yang belum melaksanakan ke­tentuan tersebut (enam hari per minggu). “Sekolah yang belum siap dengan keten­tuan lima hari sekolah tetap melaksana­kan sekolah seperti sekarang, yaitu enam hari sekolah. Tetapi dengan ketentuan, guru tetap masuk di sekolah 40 jam per minggu. Jadi, bukan delapan jam per hari, tapi kira-kira 6,5 jam per hari di se­kolah. Tetapi untuk siswanya, mengacu pada ketentuan pada beban kurikulum. Jadi tetap seperti itu,” tutur Hamid.

Baca Juga  Hati-hati, Ibu Kota Rawan Perampokan

Ia menambahkan, selama delapan jam berada di sekolah, tidak berarti guru melaksanakan tatap muka di dalam kelas bersama siswa. Namun, guru diberikan kebebasan berkreasi mengembangkan metode pembelajaran yang menyenang­kan bagi siswa.

(*/mam/dit)

Leave a Reply

Your email address will not be published.