Terdakwa Brotoseno Ajukan Duplik Pekan Dep, Pleidoi Ditolak Saat Replik

by -

METROPOLITAN – Terdakwa gratifikasi Kepala Unit III Subdit III Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Ajun Komisaris Besar Polisi Raden Brotoseno tetap membantah tuntutan Jaksa Penuntut Umum terhadap dirinya.

Brotoseno akan mengajukan duplik pada sidang berikutnya.

Sidang kemarin, JPU pada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan menolak nota pembelaan yang dibacakan Brotoseno pada sidang sebelumnya.

“Kami mohon menanggapi Yang Mulia,” kata penasehat hukum Brotoseno saat sidang agenda replik di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta.

Majelis hakim kemudian mengabulkan permohonan tersebut dan duplik Brotoseno Cs akan disampaikan pada sidang berikutnya atau pekan depan.

“Jadi kita duplik Rabu (pekan depan) dan tidak bisa mundur,” jawab hakim.

Sebelummya, JPU Retno Liestyanti tetap berpegang pada tuntutan terhadap terdakwa Brotoseno Dkk.

Retno justru menyindir mengenai kompetensi Brotoseno yang pernah menjadi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan memiliki keahlian lainnya sebagaimana yang dia lampirkan saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi pada sidang sebelumnya.

“Dengan segudang pengalamannya sebagai penyidik di KPK dan berlembar-lembar sertifikat keahliannya sebagai terlampir dalam pembelaan pribadi, seharusya terdakwa bisa melihat niat tidak baik dari saksi Lexi Haris Budiman untuk mempengaruhi integritas dan profesionalitas dari aparat penegak hukum dalam pelaksaan tugasnya,” kata Jaksa Retno Liestyanti.

Baca Juga  Polri-TNI Siap Sambut Habib Rizieq

Lexi Haris Budiman adalah perantara suap kepada Brotoseno.

Menurut Retno, seharusnya Brotoseno patut menduga uang yang dia terima tersebut terkait pekerjaannya apalagi menangani kasus tersebut.

“Seharusnya terdakwa patut dapat mengira bahwa pemberian Lexi berhubungan langsung atau tidak langsung dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai aparat penegah hukum,” kata Retno.

Dari jawaban replik yang dibacakan, Retno membeberkan runtutan pertemuan-perteman yang membuat pihaknya menyatakan Brotoseno Dkk menerima uang gratifikasi.

Pertemuan tersebut adalah pada akhir Juni 2016 dimana Harris Arthur Hedar selaku Corporate Lawyer JPNN (Jawa Pos) bertemu dengan Direktur Utama Jawa Pos Nasional Network (JPNN) Suhendro Boroma untuk membicarakan panggilan penyidik Badan Reserta Kriminal Mabes Polri terhadap Dahlan Iskan.

Kemudian, Harris Arthur Hedar bertemu dengan Lexi Mailoa Budiman di Plaza Indonesia pada 26 Agustus 2016.

Baca Juga  Perlu Masukan Masyarakat Agar Pemilu Berkualitas

Keduanya membicarakan mengenai uang operaisonal dan legal fee untuk kepentigan penundaan pemanggilan Dahlan Iskan dan disusul dengan transfer uang kepada Harris Hedar.

Lexi digunakan karena dikenal memiliki banyak teman di Bareskrim Mabes Polri.

“Ditransfer lah uang sebesar Rp 3,5 miliar ke saksi Lexi Budiman untuk kepentingan operasional. Selanjutnya saksi Lexi Budiman menghubungi Dedi Setiawan Yunus, perwira polisi di Bareskrim Polri. Pada saat pertemuan tersebut lagi-lagi saksi Lexi Mailoa Budiman mengutarkan persoalan yang dihadapi saudara Dahlan Iskan. Kemudian dijanjikan saksi Dedi Setiawan Yunus untuk mempertemukan dengan penyidiknya terdakwa Raden Brotoseno,” ungkap Retno.

Brotoseno kemudian bertemu dengan Lexi Mailoa Budiman dan pada saat pertemuan tersebut kembali disinggung penundaan pemeriksaan Dahlan Iskan hingga kemudian berujung pemberian uang kepada Brotoseno.

“Walaupun disebut sebagai pinjaman adalah aneh dan tidak lazim. Ada orang baru bertemu beberapa kali kemudian meminjam atau diberi orang pinjaman oleh orang dalam jumlah besar tanpa dibuatkan akta pinjaman atau semacamnya,” kata Retno.

Baca Juga  Wohoo Duo DJ Ini Akan Mengguncang Dua Kota

Brotoseno dan terdakwa sesama rekannya di kepolisian, Dedy Setiawan Yunus dituntut pidana penjara 7 tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Jaksa Penuntut Umum menilai keduanya terbukti secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan perbuatan korupsi yakni terbukti Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Dua terdakwa lainnya yakni Harris Arthur Hedar dan Lexi Mailowa Budiman. Haris adalah advokat Jawa Pos Group untuk mengurus penundaan panggilan pemeriksaan terhadap Dahlan Iskan.

Keduanya dituntut pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 300 juta subsidair enam bulan kurungan.

Haris dinilai sebagai advokat justru memerintahkan agar Lexi menyuap Brotoseno.

Sebagai advokat, Haris dinilai tidak bisa memberikan contoh yang baik. Jaksa menolak semua pleidoi para terdakwa.

Sumber : tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.