Organda Kota Bogor Tolak Angkot Ber-AC

by -

METROPOLITAN – Munculnya ren­cana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memasangi angkot dengan fasilitas AC mendapat tanggapan beragam. Organda Kota Bogor meno­lak rencana tersebut karena kondisinya yang dianggap tidak berpihak.

Ketua Organda Kota Bogor M Isak mengatakan, meski memiliki niat mulia untuk membuat penumpang nyaman, namun secara teknis program angkot ber-AC akan menyulitkan pengusaha. Pertama, setiap badan hukum mau tidak mau harus menyesuaikan prototipe an­gkot yang mendukung untuk dipasang fasilitas AC.

“Ini masalahnya teknis ya. Sekarang lihat saja angkot yang ada itu pintunya lipat harus ditutup. Itu ribet dengan model angkot yang ada saat ini,” kata Isak. Kalau dipasang AC, otomatis

Tak cuma itu, soal tarif pun mau tidak mau dengan ad­anya fasiliats AC, biaya angkot akan berubah minimal kenai­kannya antara Rp500 sampai Rp1.000. Belum lagi pen­gusaha angkot harus bersaing dengan transportasi online yang sekarang ini sudah makin menjamur.

Baca Juga  Warisan Prabu Siliwangi Yang Dijual

“Dengan tarif sekarang, ang­kot saja sulit bersaing dengan transportasi online. Gimana kalau tarifnya dinaikkan. Jadi kalau kondisinya masih begini, Organda Kota Bogor menolak angkot ber-AC,” tegas Isak.

Bahkan, ia menyinggung so­al kebijakan Wali Kota Bogor Bima Arya yang dianggapnya masih setengah hati menyele­saikan masalah transportasi. “Teu pararuguh (nggak jelas, red). Aya konversi, aya rerout­ing, ayeuna AC (ada konversi, ada rerouting, sekarang AC, red). Jadi loncat-loncat pro­gramnya,” sindir Isak.

Sementara pandangan lain justru diutarakan Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Jajat Sudra­jat. Ia mengapresiasi pembe­rian bantuan Kementerian Per­hubungan (Kemenhub) atas sepuluh unit mesin pendingin alias AC. Menurutnya, fasilitas itu dapat memberi kenya­manan penumpang dalam mengakses moda transportasi.

Baca Juga  704 Meter Jalan Dibangun Warga Cicadas

“Kami mengapresiasi. Ta­pi jangan dilupakan bahwa pembangunan jaringan jalan juga harus diprioritaskan. Artinya, transportasi Kota Bogor disesuaikan dengan kondisi lapangan,” imbuhnya. Jajat pun mengingatkan agar Wali Kota Bogor Bima Arya komitmen dengan program B-TOP-nya.

“Ya fokus saja di sana, kami dewan menunggu eksekusin­ya,” terang Jajat.Terpisah, Sekjen Puslitbang Pelatihan dan Pengawasan Kebijakan Publik (P5KP) Kota Bogor Rudi Zaenudin men­gatakan, program angkot ber- AC harus dipertimbangkan kembali sebelum diterapkan di Kota Bogor. Sebab, ia tak ingin adanya fasilitas AC justru membebankan pengusaha hingga menimbulkan keru­gian sama seperti Perusa­haan Daerah Jasa Transportasi (PDJT).

“Saya kira bangkrutnya PDJT harus jadi pelajaran pemkot. Teramsuk untuk menerapkan angkot ber-AC ini,” tandasnya.

Baca Juga  Bantu Korban Bencana, Lanud Atang Sendjaja Terjunkan Heli

(yoz/b/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *