Pengrajin Sepatu Kemang Nyarep Dibangunkan Galerry

by -

KEMANG – Seperti diketahui update trend model sepatu ditentukan tak hanya dari pasar atau toko-toko. Justru media informasi seperti, website, majalah, maupun televisi memiliki andil besar dalam memengaruhi perkembangan model sepatu. Sepatu-sepatu yang dipakai selebritis dunia misalnya, kerap dijadikan tolak ukur perkembangan model sepatu di tengah-tengah masyarakat.

Namun, kerapkali kita tak mungkin bisa memiliki sepatu yang di pakai oleh sang idola, selain karena diproduksi terbatas, harganyapun dipastikan luar biasa mahal. Tak jarang sebagian masyarakat yang tergolong mampu sampai harus membelinya di luar negeri demi mengikuti perkembangan mode yang ada.

Nah, peluang inilah yang coba ditangkap oleh Junaedi, perajin sepatu dan sandal dari Desa Pabuaran, Kecamatan Kemang. ” Di sini, saya sendiri secara memproduksi sepatu dan sandal, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Meskipun, saya dan karyawan bisa memproduksi tas, dompet, atau kerajinan kulit lainnya, namun saya memilih secara ekslusif memproduksi alas kaki dengan aneka model. Kami juga bisa mengerjakan sesuai pesanan customer. Asal ada gambar apalagi ada contohnya, kami bisa kerjakan,” ujar pria yang sudah 25 tahun menjalani kehidupan sebagai pengrajin sepatu kulit.

Hal senada dikatakan Siswanto, dahulu saat pertama kali merintis usaha pembuatan sepatu, dirinya meski rela berpindah-pindah rumah kontrakan. Di tahun pertama, ia bahkan hanya memproduksi 10 pasang sepatu dengan model sederhana dalam satu hari. Setelah produksi sepatu selesai, sepatu itu pun dia bawa ke pasar untuk dijual ke konsumen atau dititipkan di toko.

“Membuat sepatu bukanlah suatu hal yang mudah. Selain harus memiliki keahlian, pengrajin juga meski memiliki jam terbang atau pengalaman dalam pembuatan sepatu. Semakin lama seorang bekerja di pabrik sepatu, dipastikan bakal bisa memiliki speed dan hasil akhir yang sempurna,” jelasnya.

Untuk model sepatu yang dibuat, ia mengaku tidak ada kesulitan. Mau model apapun bisa membuat duplikasinya. Hal inilah yang menjadi point plus di pabrik sepatu yang diberi merek Kang Joen ini. “Model-model sepatu pada dasarnya sama, dan sudah ada pakemnya. Namun, yang seringkali berubah adalah aksesorisnya, sol sepatunya, dan bahan. Dan model sepatu yang beredar itu selalu berputar. Kadang, sepatu yang sudah dianggap jadul saat ini, beberapa tahun lagi mungkin akan naik daun. Dan model sepatu yang populer saat ini, belum tentu tahun depan masih disukai customer,” imbuhnya.

Pada acara temu 1001 UMKM dan seminar kewirausahaan dalam rangka meningkatkan omzet UMKM di Cibinong beberapa waktu lalu, Junaedi dan Siswanto berharap peran aktif pemerintah dalam melakukan pembinaan.

” Mimpi saya memiliki galerry di Kemang karena produk saya asli Kemang maka saya ingin di Jalan Raya Kemang – Parung di isi oleh produk asli Kemang demi menghilangkan citra Kemang dari warem yang selama ini identik dengan wilayah ini. Contoh seperti sekarang libur lebaran, misalkan punya galerry dipinggir jalan saya yakin banyak pemudik yang mampir, walau hanya melihat ya sukur – sukur mereka beli, dan saya yakin pasti Kemang seperti Cubaduyutnya Bogor,” tandasnya.

(dyn/b/sal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *