Jengkol, Iconya Desa Ciampea di Barat Kabupaten Bogor.

by -


METROPOLITAN — Jengkol merupakan makanan primadona bagi sebagian besar warga di Tanah Pasundan dan sekitarnya. Walau harga makanan tersebut terbilang cukup mahal, makanan yang bisa diolah menjadi semur, maupun gorengan itu, tetap dicari bagi para penikmatnya.

Karena itu, sebagai produsen (penghasil red), warga Ciampea dibagian Barat Kabupaten Bogor terus memproduksi jengkol demi memenuhi kebutuhn konsumen.

Salah satunya Odih, pelaku UKMK di Desa Ciampea, Bogor. Menurutnya, harga emping jengkol saat ini menembus di harga Rp140.000 per kilo dan setelah diolah menjadi jengkol seharga Rp40.000 per kilo.

“Kendati harga yang kini melambung tinggi, saya terus memproduksi jengkol untuk memenuhi permintaan konsumen,” terangnya kepada Mettropolitan Jumat (10/11).

Baca Juga  Harga Jengkol di Pasar Tradisional Bikin Dongkol

Dia menambahkan, karena itu jengkol saat ini menjadi penciri dari Desa Ciampea dan memang walau buah jengkol tidak dihasilkan dari wilayah tersebut dirinya bisa mendapatkan emping jengkol dari pasar tradisional, bahkan mendapatkan kiriman emping jengkol dariwilayah Lampung.

“Alhamdulilah, dari produkai dan dari keuntungan penjualan jengkol saya bisa memberikan pendidikan  terbaik bagi anak anak saya,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Ciampea Karta menambahkan selain produksi jengkol, di Desa Ciampea tersapat UMKM lain seperti kripik talas dan deblo yang diproduksi dari singkong.

“Ya lokasi UMKM ini berada di RW04, dan hingga kini warga terus diberdayakan, agar masyarakat setempat lebih mandiri, dan sejahtera,” katanya.
Adapun, sambungnya ketiga UMKM tersebut menjadi mata pencaharian utama dari setengah jumlah masyarakat di Desa Ciampea Bogor.

Baca Juga  Tips & Trik Masak Semur Jengkol Lezat Tanpa Bau

“Ya, memang usaha ini terus dikembangkan dan di pertahankan sejak puluhan tahun silam hingga kini. Dan, diberdayakan turun menurun,” pungkasnya singkat.

(yos/b/yok)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.