Proyek Bocimi Tinggal 30 Persen, BPTJ Naikkan Tarif 13 Tol

by -

METROPOLITAN – Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) optimistis Tol Ciawi-Sukabumi seksi I yang menghubungkan Ciawi-Cigombong selesai bulan depan. Saat ini kontraktor tengah mengebut pengerjaan ruas jalan tol tersebut.

Perlu diketahui, Jalan Tol Ciawi-Sukabumi dibangun untuk mengatasi kemacetan di jalur Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) yang kian parah. Selama ini pengerjaan dianggap cukup berat lantaran tol itu berada di wilayah dengan topografi pegunungan yang naik turun.

Kepala BPJT Herry Trisaputra Zuna memaparkan, hingga pertengahan bulan ini, pengerjaan Tol Ciawi-Sukabumi seksi I sudah mencapai 70 persen. Meski begitu, dia masih optimistis jalan tol itu selesai bulan depan.

“Kita mengejar Ciawi-Sukabumi seksi I untuk bisa dimasukkan di bulan Desember, sehingga masuk capaian 2017,” katanya di Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (24/11).

Dia pun menjelaskan, progres pengerjaan jalan tol itu baru mencapai 70 persen lantaran pembebasan 100 persen lahan jalan tol baru selesai di September 2017. Herry mengatakan, pembebasan lahan jalan tol ini tidak mudah.

“Supaya bisa selesai, ada beberapa tanah yang dijual dengan sistem konsinyasi, ada yang sistem sewa. Penyelesaiannya macam-macam, tapi kita harus all out,” bebernya.

Menurut Herry, total panjang jalan tol ini yakni 54 km yang terbagi atas empat seksi. Seksi I ialah Ciawi-Cigombong sepanjang 15,3 km, seksi II Cigombong-Cibadak 12 km, seksi III Cibadak-Sukabumi Barat 14 km dan seksi IV Sukabumi Barat-Sukabumi Timur 13 km.

Sementara itu, sejumlah ruas tol juga diusulkan agar tarifnya naik. “Hasil dari evaluasi, 13 ruas yang direkomendasikan. Empat di antaranya dipastikan dilakukan peningkatan tarif,” kata Herry di kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (24/11). Keempat ruas itu adalah Tangerang-Merak, Cikampek-Palimanan, Makassar seksi IV dan Gempol-Pandaan.

Untuk sembilan ruas tol lainnya, menurut Herry, evaluasinya sudah selesai dan tinggal menunggu usulan tarif. Kenaikan tarif disesuaikan setiap dua tahun berdasarkan inflasi.

“Perkalian tarif sebelumnya dengan tingkat inflasi dua tahun sebelumnya. Sebelum tarif dinaikkan harus memenuhi SPM (Standar Pelayanan Minimum),” paparnya.

Pengamat Ekonomi dari Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan bahwa kenaikan tarif sejumlah ruas tol punya dampak negatif, yakni melonjaknya biaya transportasi.

(feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *