KASIHAN… KORBAN GEMPA TIDUR DI KEBUN TEH

by -

Tiga hari pascagempa, korban gempa di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor yang masih mengungsi kondisinya memprihatinkan.  Saat ini, ada 378 warga Desa Malasari yang terpaksa menempati tenda darurat yang dibangun TNI dan Polri karena rumah mereka rusak parah. Namun ada puluhan warga yang tidak kebagian tenda. Mereka terpaksa menempati tenda darurat yang dibangun sendiri menggunakan plastik di tengah perkebunan teh.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor hingga kini belum tuntas dalam memverifikasi jumlah korban bencana gempa Selasa (23/1) lalu. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Ratik) BPBD Kabupaten Bogor Sumardi menuturkan, proses penghitungan bangunan yang rusak dan korban jiwa secara keluruhan di Kabupaten Bogor pascagempa belum selesai.  “Datanya  masih dalam proses dan masih menunggu petugas yang dilapangan belum kembali,” katanya saat dikonfrimasi.

Ia menambahkan, hingga saat ini Pemerintah Daerah (Pemkab) Bogor belum menentukan status bencana yang sudah terjadi tiga hari lalu.  “Belum bisa dikategorikan status darurat bencana. Kami masih koordinasi dahulu,” singkatnya dan langsung memutuskan percakapan.

Untuk kekurangan logistik, Polres Bogor kembali mengirimkan bantuan berupa bahan makanan dan air bersih kepada korban bencana. Kasubag Humas Polres Bogor, AKP  Ita Puspita Lena menuturkan, saat ini Polres Bogor kembali menyalurkan 754 dus makanan cepat saji, 111 terpal, dan 27 dus air mineral. “Bantuan itu masih bisa bertambah jumlahnya dengan bantuan yang ada di polsek-polsek. Akan disalurkan secepatnya karena bantuan logistik dan terpal sangat di butuhkan di lokasi pengungsian,” ujarnya.

Bantuan yang dikirimkan sejak hari pertama pascagempa, kata Ita, ada sekitar 1.000 untuk makanan cepat saji, 150 terpal, seratusan makanan ringan, dan puluhan air mineral. Selain bantuan logistik, sejumlah personil polisi juga di siagakan di lokasi bencana.  “Kegiatan polisi di sana, selain menjaga para pengungsi, membuka akses jalan, juga membantu warga yang membutuhkan pengobatan,”ujarnya.

Ketua DPRD Kabupaten Bogor Ade Ruhandi mengaku geram dengan lambatnya penanganan bencana di Malasari.  Seharusnya BPBD Kabupaten Bogor lebih dahulu memberikan perhatian kepada korban bencana. “Harusnya penanganan bencana dilakukan cepat dan sistematis. Ini masa, untuk jumlah saja masih simpang siur. Jika terkait anggaran, pemkab bisa gunakan dana taktis sehingga tidak ada alasan untuk terlambat,”tukasnya.

Sebelumnya, gempa berkekuatan 6,1 Skala Richter (SR) di Lebak, Banten membawa duka bagi warga Bogor. Akibat gempa yang terjadi Selasa (23/1) siang, getarannya ikut mengguncang sejumlah wilayah hingga meruntuhkan banyak rumah warga. Tak tanggung, ratusan bangunan terpaksa hancur. Sedikitnya delapan kecamatan di Kabupaten Bogor terkena dampak gempa berkekuatan 6,1 SR. Di antaranya, Cigudeg, Nanggung, Ciawi, Cigombong, Pamijahan, Cijeruk, Caringin dan Megamendung.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Kecamatan Nanggung memiliki bangunan terdampak paling banyak, yakni mencapai 279 bangunan. Sebanyak 134 di antaranya berada di Desa Malasari. Camat Nanggung, Muliadi, mengatakan, angka tersebut masih bisa bertambah mengingat ada beberapa desa yang belum direkapitulasi. “Kami masih menghitung terus. Sampai saat ini, masih ada di kisaran itu,” ucapnya.

(ads/c/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *