KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PASLON BOGOR DI MATA PENGAMAT

by -


METROPOLITAN – Pemilihan wali kota (pilwalkot) Bogor 2018 diperkirakan akan diikuti sebanyak empat pasangan calon (paslon). Keempat paslon ini pun sudah mulai aktif mengenalkan dirinya ke masyarakat. Namun, Pengamat Politik Yus Fitriadi menganggap masih ada beberapa kelemahan dan kelebihan yang ada di para kandidat tersebut.

Keempat paslon wali kota dan wakil wali kota Bogor periode 2018-2023 yang dimaksud adalah Achmad Ru’yat dan Zaenul Mutaqin, Dadang Iskandar Danubrata dan Sugeng Teguh Santoso, Edgar Suratman dan Sefwelly Gynanjar Djoyodiningrat serta Bima Arya dan Dedie A Rachim.

Menurut lelaki yang akrab disapa Yus, dari masing-masing pasangan yang maju di Kota Bogor mempunyai kelebihan maupun kekurangannya. Seperti paslon dengan slogan Ru’yat Zaenul (RZ). Mereka memiliki keunggulan dengan figur nyantri. Jika melihat kontur di wilayah Kota Bogor, masih banyak wilayah yang religius. “Ini sisi keunggulan, akan banyak diterima oleh orang muslim. Baik muslim tradisional maupun modern. PKS Muslim moderatnya dan ZM untuk muslim tradisionalnya. Itu bagi saya kekuatan luar biasa,” kata Yus.

Namun demikian, sambung Yus, dari sisi kelemahanya paslon ini sedikit jauh dari kelompok non muslim. Sebab, keduanya diketahui tidak pernah dalam berbagai agenda berbicara pluralisme, keberagaman agama dan juga jauh dengan isu-isu yang krusial seperti isu pasar, kaki lima dan masalah transportasi. “Jauh dari kelompok non muslim itu. Apalagi, performa ZM ini dikenal cuek dan terbilang senyum pun susah,” imbuhnya.

Sementara untuk paslon DID-STS, sebagai paslon yang diusung dengan partai pemenang tentunya memiliki modal awal yang sangat besar. “Belum lagi perilaku pemilihnya yang sangat mendukung karena kota, berbeda dengan kabupaten. Mungkin jika disatukan muslim abangan dengan non muslim dan muslim tradisional punya peluang,” ucap dia.

Selain itu juga, sambung dia, pasangan yang hanya diusung PDI Perjuangan dan PKB Kota Bogor lebih memperhatikan isu-isu marjinal, plurarisme dan mengangkat isu kebangsaan. “Itu luar biasa. Tapi disisi lain ada juga kelemahanya. Selain minim prestasi, sedikit tidak populis, padahal populis jadi modal awal untuk orang mencoblos,” tuturnya.

Selanjutnya, untuk paslon dengan slogan ESA (Edgar-Sefwelly) harus bekerja lebih berat. Berbeda dengan di Kabupaten Bogor yang memiliki pasangan Gunawan Hasan dan Ficky Rhoma. Ia memiliki kans menang dengan mengusung wakilnya yang merupakan anak Rhoma Irama sekaligus kakak kandung Ridho Rhoma. “Terpenting harus dikuatkan di basis massanya, terkhusus tim pemenangan,” ingatnya.

Terakhir, paslon dengan slogan Badra. Bima Arya yang masih menjabat sebagai wali kota atau petahana sangat berpengaruh besar. Belum lagi, memiliki kelebihan dalam pencitraan pemimpin mudah yang luar biasa besar. Sekilas mirip dengan Wali Kota Bamdung Ridwan Kamil, Bima membangun tata kota permukaan seperti lapangan Sempur, taman-taman, pedestrian termasuk atraktif terhadap media sosial juga besar. “IG (instagram) setiap saat, itu (pengikutnya) kelompok ngota (Kota Bogor), pengguna medsos dan gadget, Bima Arya juga memiliki banyak kaki, tidak usah dibentuk sudah jalan,” beber dia.   

Meski banyak kelebihan, bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Yus merasa Bima seorang akademis diatas rata-rata, kelompok rasional yang ngota menilai lebih, tetapi Bima sejak awal jadi wali kota tidak pernah bersinergi dengan aktor politik lokal, sekalipun dengan DPRD. “Apalagi dia lebih mementingkan program eksternal dan meninggalkan basis, tidak dekat dengan ulama dan pesantren,” ungkapnya.

(rez/b/ram)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *