Suamiku Menikah Lagi saat Aku Lumpuh (1)

by -

Tak pernah terpikir bahwa suatu hari aku mengalami ini. Aku terkena lumpuh dan tak bisa sempurna menggerakkan tubuhku. Memang usiaku telah setengah abad, tapi selama ini aku selalu berusaha menjaga kesehatanku. Dan tentu selalu berdoa bahwa aku bisa mengurus suami dan anak-anakku hingga usiaku habis. Bukan sebaliknya, mereka yang mengurus sisa usiaku.

Dalam sakitku yang merepotkanku ini, kasih sayang dan semangat dari anak-anak yang membuat aku bertahan. Pengabdian mereka menjagaku, mengantarku berobat, mengelus tubuhku di tengah malam saat aku kesakitan, adalah obat tak ternilai untukku. Maka sakit ini hampir tak begitu berat jika saja hari itu tak terjadi. Hari dimana suamiku mengumpulkan aku dan anak-anakku untuk memberitakan sesuatu. Sesuatu yang menjadi pengumuman dan bukan permintaan izin seperti yang seharusnya. Ia menikah lagi dengan seorang perempuan yang telah kukenal.

Baca Juga  Kecanduan Akibat Sering Berhubungan dengan Pacar (3)

Beberapa tahun lalu, ketika aku masih sehat, perempuan itu datang memperkenalkan sebagai rekan bisnis suamiku. Awalnya aku menyambutnya hangat, namun waktu berjalan, baru kutahu anak-anakku berkonflik dengan ayahnya karena perempuan ini. Karena justru anak-anakkulah yang melihat gelagat tak beres dan tak terima dengan sikap ayahnya.

Pernah di suatu siang, aku dan satu anak perempuanku mendatangi perempuan ini dan menegurnya. Masih kuingat wajahnya yang berkosmetik tebal dan banyak perhiasan di tubuhnya itu, ia meminta maaf dan mengklarifikasi kalau dia tak bermaksud mengganggu keluarga kami. Memang setelah itu tak ada lagi kabar yang tak sedap. Dia seperti hilang disapu angin.

Namun sekian tahun dari kejadian itu, setelah aku lumpuh begini dan tak bisa melayani suamiku secara utuh, namanya terdengar lagi dari mulut suamiku. Katanya mereka bertemu di sebuah pesta beberapa bulan sebelumnya. Sejak itu, mereka sering bertemu.

Baca Juga  Masa Lalu Suami Menghantui Hidupku (3)

Suamiku yang bisnisnya sedang merosot, istrinya sedang sakit, anak-anaknya yang semakin besar dan sedikit waktu untuknya, seperti menemukan sesuatu yang membuat hidupnya bersemangat kembali. Ia pun memutuskan menikah lagi tanpa sepengetahuanku, apalagi anak-anakku. Malam itu saat ia memberitahu kami, aku hanya bisa duduk lemah di pojok kursi. Anak-anakku yang sibuk menentang ayahnya. Bukan hanya membela karena aku yang sakit, tapi mereka merasa itu bentuk pengkhianatan terhadap mereka.

Seperti yang diceritakan seseorang pada https://www.kompasiana.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *