Kapolres Bogor: Warga Korban Gempa Terancam Longsor

by -

NANGGUNG — Kapolres Bogor AKBP Andi M Dicky Pastika Gading saat mengunjungi korban gempa pada Minggu (28/01/2018), mengatakan warga yang mengungsi di perbatasan halimun salak, di ketinggian sekitar 900 atau 1000 meter, dari Permukaan Laut (MDPL) ini, rawan terkena longsor. Pasalnya di lokasi penampungan tersebut tanahnya retak-retak sehingga berpotensi longsor.
“Longsor-longsor kecil sudah terjadi, batu-batu dari gunung juga sudah banyak yang lepas. Kemaren juga sudah menutup jalan, namun kita berhasil bongkar. Nah oleh karena itu masyarakat saat ini banyak yang tidak berani tinggal di rumah,” ujarnya.
Menurut Kapolres Bogor, sehari-hari para korban gempa mengalami masalah makanan, dan sulit memenuhi kebutuhan gizi. Apalagi cuaca yang berangin dan dingin, hujan yang hampir setiap hari dan gempa susulan yang setiap saat bisa terjadi. Para pengungsi itu tidur di luar rumah karena takut pada malam hari saat tidur nyenyak ada bencana.
“Akhirnya mereka tidur di tenda-tenda sering kena angin sehingga masyarakat banyak yang sakit flu dan lain-lain,” ujarnya.
Menurutnya, dinas harus melakukan pemetaan geologikal supaya menentukan pada daerah atau kampung-kampung yang aman atau tidak. Jadi bukan patokan rumah retak, atau tidak tapi justru lihat di sekelilingnya.
“Mungkin di belakang tebing di atasnya itu ada retakan ini rawan juga. Seperti kampung di bawah ini itu di atas juga sudah ada retakan,” ujarnya.

(mul/b/sal)

MENINJAU : Kapolres Bogor AKBP Andi M Dicky Pastika Gading saat meninjau korban gempa di Desa Malasari Kecamatan Nanggung. Kapolres menilai keberadaan pengungsi korban gempa rawan terkenal longsor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *