Pengocokan Nomor Urut Cabup Diwarnai Bentrok Massa

by -

METROPOLITAN – Seluruh peserta pilkada Bogor kini telah mengantongi nomor urut. Namun di Kabupaten Bogor, pengundian itu justru diwarnai bentrokan massa pendukung. Sebelum acara dimulai, suasana di depan Gedung Tegar Beriman sempat memanas karena terjadi cekcok mulut antarorganisasi masyarakat (ormas) yang ikut mengantarkan jagoannya maju di pemilihan bupati (pilbup) Bogor.

Banyaknya pendukung pasangan calon (paslon) yang memadati area pengundian nomor urut, mengakibatkan beberapa pendukung di luar gedung adu mulut dan sempat terjadi aksi saling dorong sehingga membuat suasana menjadi tegang.

Beruntung, aparat keamanan dengan sigap berusaha melerai dua kubu massa pendukung yang nyaris terlibat keributan. Para pimpinan masing-masing pendukung yang diketahui berasal dari salah satu ormas juga mencoba menarik anggotanya agar tidak terpancing emosi.

Kapolres Bogor AKBP AM Dicky menjelaskan, ketegangan yang terjadi merupakan masalah internal. Ada satu organisasi kemasyarakatan yang terpecah dukungan di pilbup Bogor 2018. “Ini sebenarnya ada masalah internal saja, satu organisasi terpecah dalam pilkada. Ini yang kami tidak harapkan. Jangan sampai pilkada ini memutuskan silaturahmi dan mengakibatkan perpecahan dan lain-lain,” ungkap Dicky.

Selanjutnya, Polres Bogor akan melakukan mediasi terhadap kedua pihak yang nyaris bertikai tersebut. Dicky mengaku akan melakukan pendekatan-pendekatan khusus kapada ormas dan lembaga lainnya sebagai bentuk antisipasi. “Nanti kami akan memediasi dan pengawasan, termasuk sosialisasi kepada tokoh masyarakat, agama dan paslon untuk mengantisipasi konflik,” kata Dicky.

Meski diwarnai ricuh, pengundian nomor urut tetap berlangsung. Lima paslon bupati dan wakil bupati Bogor yang telah ditetapkan KPU Kabupaten Bogor resmi mendapat nomor urut.

Nomor urut satu ditempati pasangan Nungki-Bayu Syah Johan yang diusung PDI Perjuangan dan Hanura. Nomor urut dua ditempati pasangan Ade Yasin-Iwan Setiawan yang didukung partai koalisi PPP, Gerindra, PKB dan PBB. Nomor urut tiga ditempati pasangan Jaro Ade-Inggrid Kansil yang diusung dan didukung Partai Golkar, Demokrat, PAN, PKS, Nasdem, PPP Djan Faridz, PKPI dan Berkarya. Nomor urut empat ditempati pasangan dari perseorangan Gunawan Hasan-Ficky Rhoma dan pasangan nomor urut lima ditempati Ade Wardhana-Asep Ruhiyat.

“Jadi hari ini pengundian nomor urut lima calon yang maju di pilbup Bogor 2018. Setelah itu akan masuk masa kampanye mulai 15 Februari. Kami juga sudah menetapkan jadwal kampanyenya,” kata Ketua KPU Kabupaten Bogor Haryanto Surbakti usai pengundian nomor urut di Gedung Tegar Beriman, kemarin.

Para calon sendiri memiliki pandangan mengenai nomor urut yang didapat. Calon bupati Bogor Fitri Putra Nugraha alias Nungki mengaku bersyukur mendapat nomor urut satu. Selain mudah diingat, nomor satu juga diyakini bisa mengantarkannya menang.

“Dapat nomor urut satu, kami jadi semakin optimis. Karena pada dasarnya kami ingin jadi yang nomor satu. Setelah ini kami akan menyusun pola strategi sosialisasi agar seluruh visi dan misi bisa sampai kepada masyarakat,” ujar Nungki.

Sementara pasangan Ade Yasin-Iwan Setiawan mengatakan, nomor urut dua melambangkan kejayaan. Sebab, angka dua jika ditunjukkan dengan jari akan membentuk huruf ‘V’ yang memiliki arti Victory. “V itu victory, artinya kemenangan. Insya Allah kami akan berjuang dan memenangkan pilbup Bogor,” jelas Ade Yasin.

Usai mendapatkan nomor urut, Ade Yasin akan terus menguatkan silaturahmi ke masyarakat. Sebab, perempuan yang juga Ketua DPW PPP Jawa Barat ini mengaku komunikasi yang dibangun selama ini sudah dilakukan sejak jauh hari. “Jadi sekarang tinggal menguatkan dan merawat kepercayaan yang sudah kami bangun sejak lama,” terangnya.

Sementara itu, pasangan Jaro Ade-Inggrid Kansil memaknai angka tiga sebagai angka keberhasilan. Sebab di pilkada Kabupaten Bogor sebelumnya, pemenangnya adalah pasangan Rachmat Yasin-Nurhayanti yang mengenakan nomor urut tiga. “Pemenang pilbup Bogor 2013 Pak Rahmat Yasin dan Ibu Nurhayanti juga nomor tiga, Pak RY juga sempat jadi Ketua DPRD. Jadi mudah-mudahan sekarang giliran kami dan Insya Allah ini yang terbaik,” tandas Jaro Ade.

Sementara di Kota Bogor, penetapan nomor urut calon wali kota dan wakil wali kota Bogor relatif lancar. Hasil pengundian KPU Kota Bogor, nomor urut pertama diisi paslon Achmad Ru’yat dan Zaenul Mutaqin. Nomor urut dua diisi paslon Edgar Suratman dan Sefwelly Gynanjar Djoyodiningrat. Kemudian nomor urut tiga diisi paslon Bima Arya dan Dedie A Rachim. Terakhir nomor urut empat diisi paslon Dadang Iskandar Danubrata dan Sugeng Teguh Santoso.

Menurut Ru’yat, semua nomor itu bagus dan baik. Tetapi nomor satu atau wahid lebih baik. Nomor satu berarti Kota Bogor kahiji memiliki satu makna bahwa Kota Bogor harus maju dan bersatu ngahiji. Artinya maju kotanya dan nyaman warganya. “Kota Bogor harus memiliki kenyamanan yang dinikmati masyarakat dan menaungi seluruh lapisan masyarakat. Kota Bogor nyaman ditinggali seluruh lintas kalangan, baik kalangan atas dan bawah, lintas budaya, lintas agama dan kepentingan apa pun,” kata Ru’yat.

Hal berbeda diungkapkan paslon dengan nomor urut dua, Edgar Suratman dan Sefwelly Gynanjar Djoyodiningrat. Menurut Edgar, baginya semua nomor itu bagus. Tetapi yang terpenting, pihaknya harus menyukuri mendapat nomor urut dua. Sebab, menurutnya, nomor dua adalah lambang kelungguhan atau tidak jemawa. “Yang penting kita syukuri. Intinya jangan merasa hebat. Karena yang kita inginkan sesuatu yang kita perjuangkan semata-mata untuk masyarakat,” ungkap Edgar.

Sementara itu, pendapat yang lain diutarakan paslon dengan nomor urut tiga, Bima Arya dan Dedie A Rachim. Menurut Bima, angka ketiga memiliki filosofi sebagai simbol pemersatu. Seperti dalam Pancasila, sila ketiga adalah Persatuan Indonesia yang memiliki maksud mengutamakan persatuan atau kerukunan bagi seluruh warga yang mempunyai perbedaan agama, suku, bahasa dan budaya. “Sehingga tetap satu atau disebut dengan Bhinneka Tunggal Ika. Bisa juga dimaknai sebagai penengah, perekat sebagai simbol persahabatan,” ujarnya.

Lain halnya dengan pasangan nomor urut empat, Dadang Iskandar Danubrata dan Sugeng Teguh Santoso. Menurut Dadang, secara pribadi nomor empat ini sangat spesial dan identik baginya. Pertama, tanggal empat merupakan hari kelahirannya di Januari. Kemudian PDI Perjuangan selama ini selalu memperjuangkan empat pilar. Karena itu, semoga dengan nomor urut ini bisa menjadi sinyal kuat bahwa pihaknya bisa memenangkan bursa pilwalkot Bogor 2018. “Menurut saya ini bukan hal yang kebetulan. Mudah-mudahan ini sudah takdirnya bahwa saya juga harus memperjuangkan empat pilar di Kota Bogor agar sesuai dengan jargon kami, tercipta Bogor yang bersih, sejahtera dan nyaman,” tutupnya.

(fin/rez/d/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *