Sarden Bercacing Ditarik dari Supermarket Bogor

by -

Beredarnya informasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) soal 27 merek sarden bercacing membuat pengelola supermarket menarik produknya. Ini juga terjadi di Bogor. Salah satunya supermarket di Ramayana Jambu Dua.

Ramayana Pusat telah mengeluarkan surat edaran untuk penarikan produk jenis ikan makarel kaleng sesuai daftar BPOM. Penanggung Jawab Ramayana Supermarket Misnan mengaku seluruh produk yang dinyatakan positif bercacing oleh BPOM telah ditarik.

Ia memastikan bahwa produk tersebut tidak lagi dijualnya. “Setelah ada informasi itu,  Ramayana Pusat meminta agar seluruh merek ikan makarel yang dilarang langsung ditarik, hari H sudah langsung kita tarik,” katanya.

Ia pun memastikan bahwa tempatnya telah bersih dari produk tersebut. “Ratusan kaleng kayaknya, tapi yang jelas sudah tidak ada lagi dan nggak beredar lagi di sini produk ikan sarden yang dilarang itu,” ujarnya.

Lain di supermarket, lain pula di pasar tradisional. Sebuah toko yang menyediakan kebutuhan sembako di dekat Pasar Kembang menolak produknya disita pemerintah. Pemilik toko, Cici (50), beralasan bahwa dirinya akan rugi jika penyitaan itu tidak disertai kompensasi. “Enak saja, emang saya belinya pakai kertas. Kalau ada uang ganti rugi dengan jumlah yang sama sih nggak masalah,” ketus Cici.

Baca Juga  Drainase Terganggu Imbas Proyek Pembangunan, Dua Jam RSUD Kota Bogor Kerendem Banjir

Dengan berjalannya waktu, Cici berharap kasus tersebut segera diselesaikan sehingga pembeli bersedia membeli ikan makarel kemasan kaleng lagi. “Semoga cepat jelas deh penanganan dari pemerintah atau perusahaannya itu bagaimana, jangan akhirnya merugikan pedagang,” katanya.

Sekadar diketahui, BPOM menemukan adanya 27 merek produk ikan kaleng yang positif mengandung parasit cacing.

Kepala BPOM RI Penny K Lukito menyampaikan bahwa pada temuan pertama hanya ada tiga merek ikan sarden yang mengandung cacing. Namun setelah pemeriksaan dikembangkan, temuan bertambah menjadi 27 merek. “Dari 66 merek ikan makarel dalam kaleng yang terdiri dari 541 sampel ikan, ada 27 merek yang positif mengandung parasit cacing,” jelasnya.

Dari 27 merek tersebut, 16 di antaranya merupakan produk impor dan sebelas merek merupakan produk dalam negeri. Beberapa merek di antaranya produk yang kerap ditemukan di pasaran seperti ABC, King Fisher, Gaga, Pronas dan beberapa merek lainnya.

Baca Juga  Kadis Perindag Ancam Tindak Alfamart di Kampung Kambing

Penny mengaku pihaknya sedang menelusuri dan berkomunikasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait temuan ini. Koordinasi dengan KKP dilakukan untuk mengetahui asal usul produk dan bahan baku. Ikan makarel hanya ditemukan di perairan luar dan produk sarden dalam negeri yang ditemukan mengandung parasit cacing bahan bakunya dipasok dari luar negeri.

“Ikan makarel tak ditemukan di perairan Indonesia. Dan secara natural memang mengandung parasit cacing. Tapi tentunya menjadi tugas kami Badan POM untuk menjamin produk yang diproduksi di sini, diedarkan dan dikonsumsi masyarakat memenuhi standar-standar yang ada dikaitkan dengan hygienic (higienitas), keamanan, mutunya dan manfaatnya,” papar Penny.

Tindakan BPOM selanjutnya ialah menarik produk sarden kalengan dari pasaran. Dalam hal ini BPOM RI telah meminta BPOM di seluruh Indonesia melakukan penarikan. Selain itu juga pihaknya akan menyetop masuknya 16 merek sarden kaleng impor ke Indonesia. “Untuk produk dalam negeri juga kita stop karena bahan bakunya datang dari tempat yang kita indikasikan mengandung cacing tersebut. Jadi kita stop semuanya dan terus mengembangkan,” ujarnya.

Baca Juga  Kadisperdagin Soroti Pasar Modern Sentraland

Merek-merek yang ditemukan tidak mengandung cacing juga akan diteliti. Jika ditemukan mengandung cacing maka produksinya akan dihentikan. “Jadi ini akan terus berkembang. Tadi ada 66 merek dan sudah 27 merek firm mengandung cacing dan sudah kita banned tidak bisa lagi impor dan produksi di dalam negeri,” jelasnya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Bogor Dace Supriadi mengaku belum memberi surat edaran untuk menarik produk yang dijual di swalayan maupun pasar. “Kami harus rapatkan dulu, tapi secapatnya akan dilakukan pengujian dan akan melibatkan Dinas Kesehatan juga,” ujarnya.

Namun, pihaknya meminta masyarakat tetap tenang. “Sejauh ini belum ada laporan apapun dari warga, tidak ramai. Untuk itu kami akan lakukan persiapan dulu, akan sidak ke pasar atau swalayan. Soal surat edaran, imbauan atau apapun itu, dari provinsi pun belum ada,” tandasnya.

(tib/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *