Waspada Uang Palsu Jelang Pilkada Bogor

by -

Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak yang berlangsung Juni 2018, publik dikejutkan dengan temuan uang palsu (upal). Di Katulampa, polisi membekuk sindikat upal yang berniat mengedarkannya. Tak tanggung-tanggung, nilainya fantastis mencapai Rp6 miliar.

SATUAN Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Bogor Kota meringkus pelaku pengedar upal di kontrakan mereka, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Selasa (27/3) pagi. Mereka adalah CN, MK dan YN. Ketiganya tak berkutik begitu polisi menemukan ‘miliaran’ upal yang disimpan dalam koper abu-abu.

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya, mengatakan, uang itu rencananya dijual dengan sistem 3:1. “Jadi, selembar Rp100.000 asli ditukar dengan tiga lembar uang palsu. Pelaku utamanya CN, sedangkan dua lagi pengawal,” ungkap Ulung. Dari hasil penyelidikan, pelaku melakukan transaksi melalui ponsel dengan sistem ‘jemput-deal-ketemuan’. “Kalau untuk peredarannya masih kami dalami. Yang jelas dari tersangka ini, mau dijual lagi,” bebernya di Mako Polresta Bogor Kota, Jalan Kapten Muslihat, Bogor Tengah, kemarin.

Berdasarkan data Bank Indonesia yang dilansir di website resminya www.bi.go.id diketahui, temuan uang palsu di wilayah Jawa Barat pada 2017 hingga awal 2018 cenderung meningkat. Pada Desember 2017, temuan upal yang tercatat di Bank Indonesia sebanyak 1.404 lembar. Sedangkan pada Januari 2018 meningkat jadi 2.249 lembar. (lihat grafis).

Baca Juga  Genjot Potensi Wisata di Desa, Ade Yasin Ingin Desa Wisata Lebih Kompetitif

Ulung tak menampik adanya kewaspadaan terhadap peredaran uang palsu jelang pilkada. Untuk itu, pihaknya hingga saat ini masih mendalami kasus tersebut. “Memang kita mewaspadai peredaran upal itu untuk kepentingan pilkada. Tapi ini kan masih terus dikembangkan kasusnya,” katanya. Secara kasat mata, lanjut Ulung, upal itu terlihat sama. Akan tetapi jika diperhatikan seksama, ada perbedaannya. “Walaupun hologramnya mirip, upal terasa lebih kasar kalau diraba,” terangnya.

Terkuaknya temuan upal ini menyita perhatian Pengamat Politik, Yus Fitriadi. Menurut dia, temuan ini harus diusut hingga ke akarnya. Termasuk soal dugaan adanya pesanan uang palsu untuk kepentingan Pilkada 2018. Sebab, tak menutup kemungkinan adanya praktik peredaran upal untuk membiayai Pilkada yang diketahui harganya selangit.

“Model pertama kemungkinan uang palsu tersebut akan ditawarkan kepada para bandar yang sedang membiayai pasangan calon untuk disebar langsung kepada masyarakat,” kata Yus. Pemberian uang kepada masyarakat dianggap mampu meningkatkan perolehan suara hingga tiga kali lipat.

Baca Juga  Ingat Ya, Camat Harus Jaga Netralitas di Pemilu 2024

Cara kedua yakni dilakukan lawan politik salah satu pasangan calon. Tindakan mendistribusikan uang kepada masyarakat dengan mengatasnamakan lawan politiknya diyakini mampu menjatuhkan elektabilitas pasangan calon kompetitor. “Bagaimanapun model dan modus operasinya, saya melihat fenomena penangkapan pengedar uang palsu ini sangat terkait erat dengan Pilkada,” kata Yus.

Menyikapi persoalan ini, Ketua KPU Kota Bogor, Undang Suryatna, mengatakan jika potensi peredaran upal jelang Pilkada tetap ada. Untuk itu, ia menyerahkan proses penyidikan lebih lanjut kepada polisi dalam mengusut temuan upal di Katulampa.

“Saya kira wajar kalau temuan itu dikaitkan dengan Pilkada. Karena bisa saja seperti itu. Tapi saya berharap temuan itu tidak ada kaitannya dengan Pilkada di Bogor. Makanya kita tunggu saja hasil dari polisi seperti apa,” kata Undang.

Sementara dari hasil pengungkapan identitas tiga pelaku, Ulung berkeyakinan kalau ketiganya hanya transit sementara di Bogor. “Memang uang Rp6 M itu belum ada yang beredar. Tapi tetap kami mewaspadai upal untuk kepentingan pilkada ini,” ujarnya.

Baca Juga  12 Tahun Nikah, Wulan Guritno Pilih Cerai

Lalu, Kepala Bagian Operasional (Kabagops) Polresta Bogor Kota Kompol Fajar Hari Kuncoro menambahkan, pihaknya berencana berkoordinasi dengan KPUD Kota Bogor untuk berbagi informasi soal uang palsu ini, namun belum dalam waktu dekat. “Sementara kami masih fokus mengembangkan motif, penjual, pembeli dan pembuat uang palsu ini. Arahnya ke mana, dari mana datangnya. Ini yang jadi fokus dulu,” katanya.

Setelah kejadian ini, Fajar mewanti-wanti masyarakat Kota Bogor agar selalu waspada terhadap ancaman peredaran uang palsu. “Musim pilkada apa saja bisa jadi isu. Apalagi kan ada istilah serangan fajar. Nah ini kalau ternyata ada hubungannya dengan tertangkapnya pelaku uang palsu, kan bahaya. Bisa saja dipakai ke arah sana. Namun itu masih asumsi, fokus kami masih mendalami kasusnya dulu, belum ke arah kaitan dengan pilkada,” tutupnya.

(ryn/c/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.