Ortu cuma Jualan Sapu Lidi, Nahya Butuh Pertolongan

by -

Nahya, remaja 17 tahun asal Argapura, Cigudeg, harus menanggung penyakit langka. Benjolan di kepalanya tampak besar hampir seukuran bola voli. Anak ketiga pasangan Amsori dengan Ammah itu sudah tak lagi sekolah karena malu dengan penyakitnya.

Sejak kelas lima SD, Nahya putus sekolah. Warga Kampung Leuwihieum, Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg itu tak bisa berbuat apa-apa. Beruntung, ada tetangganya yang terenyuh dengan kondisi Nahya.

Rijal Lujaman namanya. Mahasiswa FKIP Universitas Pamulang itu membantu pengobatan Nahya hingga ditangani medis.

Dari mengupayakan berobat di Puskesmas Cigudeg, RSUD Leuwiliang hingga RS PMI Bogor, ketiganya sudah didatangi. Namun dengan alasan keterbatasan alat, akhirnya Nahya dirujuk ke RSUP Fatmawati Jakarta. “Dengan bermodalkan BPJS, kami berusaha untuk kesembuhan Nahya,” kata Rijal.

Baca Juga  Ahok Serang Sandiaga Uno

Ia tak menampik bahwa dana jadi salah satu persoalan yang dihadapi untuk kesembuhan Nahya. Sebab, ada obat yang tidak di-cover BPJS. Belum lagi biaya transportasinya.

“Sampai Nahya di RSUP Fatmawati Jakarta, dana yang kami dapat hanya dari modal kami bersama kawan-kawan di kampus. Kendala selanjutnya bahwa orang tua Nahya tidak dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, jadi kami terus dampingi,” papar Rijal.

Mahasiswa yang juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini mengaku saat ini sedang melakukan penggalangan dana dengan menghubungi beberapa lembaga yang konsen terhadap bantuan bagi masyarakat dan membuka donasi langsung melalui salah satu website.

“Kami berharap semua pihak, baik swasta maupun pemerintah, agar berkenan memberi bantuan untuk kesembuhan Nahya. Setiap donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk biaya akomodasi selama menunggu proses operasi. Bila memungkinkan, kami akan membantu adiknya untuk biaya sekolah karena memang ekonomi keluarganya sangat memprihatinkan,” ungkap Rijal.

Baca Juga  Prilli Latuconsina Mengucapkan Get Well Soon Kepada Aliando Yang Sedang Sakit

Kepala Puskesmas Cigudeg dr Heru mengakui adanya pasien atas nama Nahya yang ditangani. Namun, penanganannya tak lama karena pasien langsung dirujuk ke rumah sakit. “Itu dari Januari. Tapi untuk data lengkapnya ada di UPF Lebakwangi,” terang dr Heru.

Untuk diketahui, orang tua Nahya sehari-harinya hanya perajin sapu lidi. Bahan baku itu diambilnya dengan memungut dari perkebunan sawit yang mengelilingi desanya. Biasanya satu sapu dihargai Rp1.000.

(ads/b/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.