Pembongkaran Vila Dihadang Ibu Hamil

by -

Pembongkaran vila di Blok Cisadon, Babakanmadang pada Selasa (24/4) pagi, diwarnai aksi penghadangan. Sejumlah penjaga vila sempat menolak bangunan milik majikannya digerus alat berat. Bahkan, istri penjaga vila bernama Imas (28) ikut menemani suaminya menghadang petugas gabungan hingga jatuh pingsan.

Setelah menempuh jarak kurang lebih 15 kilometer dari persimpangan Pusdikzi Megamendung, 166 orang rombongan Perhutani yang dikawal Brimob dan Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kabupaten Bogor tiba di Blok Cisadon.

Jalan yang ditempuh cukup ekstrem. Tanah basah jadi pijakan ban-ban mobil sehingga cukup merepotkan sang sopir. Jurang-jurang terjal juga tampak pada kiri dan kanan jalan hingga bukit berisi bangunan vila pun terlihat.

Sementara sebuah alat berat sudah lebih dulu tiba di lokasi. Sebelum meruntuhkan bangunan, petugas membongkar pintu gerbang vila dan memutus sambungan listrik terlebih dulu. Namun, upaya tersebut dihadang penjaga vila bernama Yudi (45) dan rekan-rekannya.

Di hadapan petugas, lelaki yang mengaku penjaga vila milik Yulius Puumbatu itu menghalangi rombongan petugas yang berniat mengeksekusi vila. Sang isti, Imas, juga ikut menemani upaya penghadangan ini. “Kami bukan mau menghalang-halangi, tapi setidaknya bapak-bapak bisa memperlihatkan surat eksekusi vila yang kami jaga ini,” tegas Yudi di hadapan para petugas Perhutani.

Yudi yang telah menjaga kawasan itu selama lima tahun mengatakan, Yulius tidak mengabarkannya terkait rencana pembongkaran vila oleh pihak berwenang. “Terakhir ketemu Pak Yulius empat hari kemarin. Tidak diberi tahu,” ujarnya.

Sempat terjadi ketegangan saat eksekusi tersebut. Namun, salah seorang petugas dari Perhutani bisa mencairkan suasana. “Sudah, Bapak selesai tanggung jawab menjaga vila ini. Selanjutnya biar kami yang bertanggung jawab pada Pak Yulius,” ucapnya.

Usai memberi penegasan, tiba-tiba di lereng bukit terdengar suara terompet cukup panjang sebanyak tiga kali. Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, pasukan Brimob naik ke atas bukit menyisir asal suara terompet tersebut.

Setelah dirasa aman dan kesepakatan terjadi, para petugas diinstruksikan mengangkut barang dari dalam vila serta mencatatnya. Tak lama setelah barang tersebut dikemas, terakhir muncul dalam bopongan seorang perempuan tengah hamil yang diduga sedang sakit. “Saya mau kasih tempat istri saya buat istirahat, dia sedang hamil tujuh bulan,” pinta Yudi sambil memangku istrinya dibantu beberapa petugas Perhutani.

Imas, wanita yang tengah hamil tersebut dibaringkan di teras vila yang belum dibongkar. Matanya berkaca-kaca ketika melihat vila yang sudah didiaminya selama dua tahun bersama suami dan ketiga anaknya dihancurkan alat berat. “Saya bingung harus tinggal di mana. Kalau pulang ke Banten itu tidak mungkin,” ujarnya sambil terus meringis menahan sakit.

Imas mengaku hidupnya sudah pas-pasan. Sebab, selama ini ia hanya mengandalkan gaji suami dari menunggu vila. Bahkan untuk memeriksa kehamilannya pun ia tidak sanggup. “Selama hamil belum pernah diperiksa karena tidak punya biaya,” ucapnya.

Namun, pembongkaran terus berjalan. Satu per satu vila dirobohkan. Sampai pada vila yang kelima, datang seseorang dari mobil Taff berpakaian perlente langsung menanyakan penanggung jawab eksekusi. Adu mulut legal Perhutani dengan Martin yang mengaku anak Yulius Puumbatu pun terjadi. “Ini negara hukum, kami sedang mengajukan PK pada pengadilan. Kenapa putusan belum ada tapi eksekusi pembongkaran sudah dilaksanakan?” sesal Martin.

Ia pun kembali menunjukkan kekesalannya. Menurutnya, lahan yang dikuasai ayahnya bukan milik Perhutani. “Ini adalah lahan kering dan papi saya mendapatkan dari over alih garap. Kenapa proses pengadilan belum selesai tapi lahan sudah dieksekusi? Kami akan tuntut siapa yang menjadi penanggung jawab pada kegiatan ini,” tegasnya seraya menunjukkan berkas-berkas lahan yang diklaim menjadi hak Yulius Puumbatu. Meskipun ada sedikit ketegangan, pembongkaran terus berlanjut hingga mencapai delapan vila.

Direktur Operasi Perum Perhutani Hari Priyanto menyatakan bahwa penertiban tersebut sebagai tindak lanjut putusan Pengadilan Negeri Cibinong Nomor 133/pdt.G/2009/PN,juncto putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor.396/pdt/2010.juncto putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1635 k/pdt, yang telah berkekuatan hukum tetap.

Dalam putusan itu dijelaskan bahwa kawasan Blok Cisadon merupakan kawasan hutan negara yang pengelolaannya diberikan kepada Perum Perhutani. “Arahan Dirjen Penegakan Hukum LHK menyebutkan, setelah penertiban berlangsung akan dilakukan pengembalian fungsi kawasan hutan menjadi kawasan hutan. Sebagai kawasan lindung sesuai dengan Keppres Nomor 114 Tahun 1999 tentang Penataan Ruang Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur) yang menyatakan bahwa kawasan Bopunjur ditetapkan sebagai kawasan konservasi air dan tanah. Ini bertujuan menjamin tetap berlangsungnya keberadaan air, perlindungan terhadap kesuburan tanah, pencegahan erosi dan banjir bagi kawasan Bopunjur dan daerah hilirnya, termasuk wilayah Provinsi DKl Jakarta,” terang Hari.

Ia menambahkan, langkah penertiban dan penanganan yang telah dilakukan terhadap kasus penyerobotan kawasan hutan di Blok Cisadon memiliki landasan hukum sangat kuat. Sebab, mengacu pada putusan pengadilan, surat permohonan eksekusi Kepala Kejaksaan Negeri Aanmmaning, Ketua PN Cibinong serta surat teguran kepada yang bersangkutan. “Kawasan hutan Blok Cisadon merupakan kawasan hutan produksi yang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.195/KPTS-ll/2003, tentang penunjukan dan penetapan kawasan hutan di Provinsi Jawa Barat. Kawasan hutan Blok Cisadon tersebut nantinya dikembalikan fungsinya sebagai kawasan Iindung dengan pengelolaan hutan bersama masyarakat,” tutupnya.

Perum Perhutani menyebut masih ada tanah seluas 22 ribu hektare miliknya di kawasan Bopunjur yang diduduki masyarakat. “Sekitar 22 ribu hektare, tetapi bentuknya macam-macam. Ada yang perambahan sayur-sayuran, ada yang bangunan. Skemanya beda-beda,” kata Hari. Setelah pembongkaran, kemudian dilakukan penanaman ratusan pohon jenis Akasia di lokasi eks vila tersebut.

(ash/d/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *