Ironis, Istana Presiden Selalu Kosong Saat “May Day”

by -

Metropolitan – Setiap tanggal 1 Mei, seputar Istana Kepresidenan, Jakarta, selalu menjadi tujuan para buruh dalam memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day. Buruh berdatangan dari Jakarta dan sekitarnya dan berteriak menuntut banyak hal, yang intinya perbaikan kesejahteraan. Pada 1 Mei 2015, para buruh meneriakkan 10 tuntutan di depan Istana Presiden.

Tuntutan itu mulai dari kenaikan upah minimum provinsi atau kabupaten/kota (UMP/UMK) sebesar 32 persen, menuntut penambahan jaminan kesehatan sebesar Rp 30 triliun dalam APBN, hingga menuntut menghapus sistem kerja outsourcing. Tepat setahun kemudian, para buruh kembali datang. Kali ini tuntutan berkurang satu menjadi sembilan tuntutan.

Tuntutan itu antara lain menolak PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, naikkan upah minimum sebesar 30 persen, menolak pemberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN hingga menolak kriminalisasi aktivis buruh. Kemudian, pada 1 Mei 2017  buruh kembali “menggedor” Istana. Tuntutan mereka semakin sedikit, hanya tiga poin, yakni hapus sistem kerja outsourcing dan magang, peningkatan jaminan sosial, dan menolak upah murah.

Baca Juga  Ada Lima Kampung di Pamijahan yang Terdampak Gempa, Banyak Rumah Rusak

Kemarin, Selasa (1/5/2018), buruh tetap mendatangi Istana. Dari seberang tempat Presiden Jokowi berkantor, mereka menuntut beberapa poin.  Tuntutan itu antara lain menghapus PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, hapus upah rendah dan yang belakangan menjadi isu hangat di publik, menuntut penghapusan Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

Kali ini, buruh juga menuntut Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri mundur dari jabatannya. Bahkan, demonstrasi buruh pada May Day ini dijadikan momentum dalam bentuk deklarasi dukungan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia terhadap Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Bagi pemerintah, tentu tidak mudah merespons seluruh tuntutan buruh ini. Ibarat timbangan, pemerintah harus menempatkan buruh sama untungnya dengan pengusaha.

Baca Juga  Capaian Vaksin di Bogor Masih Jauh dari Target

 Pemerintah pun memilih untuk tidak berhadap-hadapan langsung dengan buruh tiap May Day. Presiden Joko Widodo, sama seperti Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono, tidak pernah sekali pun menemui buruh saat May Day. Sebagai catatan, selain Presiden Soekarno, memang belum pernah ada Presiden RI yang “nekat” berorasi di hadapan buruh saat Hari Buruh Internasional.

Istana kosong

Saat menjabat presiden, Jokowi tercatat tidak pernah berada di Istana Kepresidenan saat Hari Buruh Internasional atau May Day.

1 Mei 2015: Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Ngawi, Jawa Tengah.

1 Mei 2016: Presiden Jokowi berkegiatan tertutup di Istana Presiden Bogor. Satu-satunya kegiatan Presiden yang terbuka bagi pewarta saat itu adalah konferensi pers mengenai pembebasan warga negara Indonesia dari gerilyawan di Filipina.

Baca Juga  Daftar Kuliner Yang Cocok Untuk Makan Siang di Surabaya

1 Mei 2017: Presiden Jokowi melaksanakan kunjungan kerja di Hong Kong. Di sana, ia menemui delegasi bisnis negara setempat sekaligus bertemu warga negara Indonesia yang bekerja di sana.

1 Mei 2018  Presiden Jokowi lagi-lagi tidak berkegiatan di Istana Presiden Jakarta. Ia membuka Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendikiawan Muslim Wasathiyah Dunia di Ruang Garuda, Istana Presiden Bogor. Hingga saat ini, tidak ada seorang pun pejabat di lingkungan Istana Presiden yang bersedia dikutip pernyataannya mengenai aktivitas Jokowi saat May Day.

Sumber : Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *