Misi Propetik Saum

by -

Cinta sering pula diartikan dengan mahabbah, yaitu karunia Allah yang tidak bisa dihilangkan keberadaannya, karena setiap manusia diberi rasa cinta oleh Allah SWT. Untk memotivasi dirinya agar taat dan patuh terhadap perintah-NYA. Oleh karenanya rasa cinta tidak bisa hidup berdiri sendiri tanpa adanya penyaluran yang harmonis, dalam arti kata tumbuhnya cinta harus ada obyek yang dicintai.

Para ahli psikologi telah membuat definisi cinta dengan berbagai coraknya, namun ternyata mereka kesulitan menemukan hakeket cinta yang sebenarnya, karena cinta berkisar dan berada didalamnya. Bila rasa cinta itu berjalan harmonis, maka ada sesuatu yang menyertai kemanapun dia pergi, yaitu pengorbanan. Karena cinta dan pengorbanan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Singkatnya dimana ada cinta pasti ada pengorbanan yang dilakukan sebelumnya. Kata orang, bila cinta berbicara, gelap terasa terang dan jauh terasa dekat, sehingga apapun yang dilakukannya walaupun mesti menanggung resiko yang sangat berat demi meraih obyek yang dicintainya.

Allah SWT melalui firman-firman-NYA telah memberikan cinta atau mahabbah kepada manusia berupa Mahabbah Thayyibah dan Mahabbah Imaniyyah, yaitu sebagai alternatif agar apa yang dikorbankan tidak menjadi sia-sia. Manusia yang binasa adalah manusia yang menghidupkan kecintaanya hanya berdasarkan pada Mahabah Thabi’iyyah saja, tanpa dibarengi dengan Mahabbah Imaaniyyah dalam kehidupannya.

Di bulan ramadhan rasa ” Cinta / Mahabbah ” senantiasa ditumbuh suburkan dengan amalan –amalan yang kita kerjakan :

Pertama, kemesraan hubungan kita dengan Allah SWT ini kita dapatkan melali sejumlah amaliyyah ritual seperti; saum, shalat, tilawah Al-Qur’an, i’tikaf, dzikir, do’a dan lain sebagainya. Kemesraan ini membawa kinikmatan spiritual yang tidak bisa dilukiskan dengan kata – kata.

Kedua, kemesraan hubungan dengan keluarga dan sesama. Selama bulan ramadhan, kita terutama yang sibuk banyak mendapatkan sesuatu yang membawa kemesraan hubungan dengan keluarga dan tetangga. dilingkungan keluarga misalnya buka bersama, sahur bersama, shalat terawih bersama dan lain sebagainya. Demikian juga sesama tetangga, setidak-tidaknya shalat tarawih bersama. Yang perlu kita lestarikan adalah nilai kebersamaannya. Komunikasi baik antar keluarga dan tetangga harus kita tingkatkan dan lestarikan, hal ini akan menumbuhkan saling pengertian, saling menyayangi dan saling menghormati.

Ketiga, semangat kasih sayang dan peduli pada sesama. Saum memiliki dimensai sosial yang sangat tinggi. Selama kita saum kita merasakan perihnya lapar, haus dan dahaga. Rasa lapar dan haus ini mungkin sering dirasakan oleh masyarakat kaum dhu’afa diluar bulan Ramadhan, karena kekurangmampuan mereka menyediakan kebutuhannya. Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan kasih sayang dan peduli pada nasib sesama. Nabi SAW, mengingatkan kaum hartawan: ” kamu ditolong dan diberi rizki dengan bantuan kaum dhu’afa diantara kalian ”. Seorang hartawan betapapun banyak harta yang dimiliki, uang banyak berlipat, mobil mewah mengkilat, rumah bagus bertingkat, dia tidak akan mampu menikmati tanpa bantuan dari para buruh bangunan, buruh tani dan lain sebagainya.

Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk menacarkan ” Cinta/Mahabbah ” kita kepada Allah SWT dan sesama. Semoga dengan saum Ramadhan kita semua mendapatkan Cinta-NYA dan di cintai Allah SWT.

Wallahu’alam

Baca Juga  Puasa dan Lebaran tanpa Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *