Tolak Peresmian Tol BORR

by -

“Tolak.. tolak,” begitulah teriakan warga yang berkerumun tepat di depan pintu masuk Bukit Cimanggu City (BCC). Sembari membentangkan spanduk, mereka menolak peresmian beroperasinya Jalan Layang Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi IIB, yang akan dilakukan beberapa waktu mendatang. Aksi ini sebagai bentuk kekesalan atas keluhan warga BCC soal keberadaan tol BORR kepada pihak terkait, yang tak kunjung ada tanggapan. Mereka mengancam akan mengambil jalur hukum.

Koordinator Aksi warga BCC Lukman Malanuang mengatakan, aksi ini menjadi puncak kekesalan mereka karena keluhan yang sudah disampaikan sejak awal bulan lalu, tidak kunjung digubris PT Marga Sarana Jabar (MSJ) sebagai operator tol BORR. Sejak minggu lalu, warga pun memasang spanduk penolakan persis di mulut akses tol atau Ramp dengan harapan bisa didengar. Namun kenyataannya tidak. Ia menilai banyak kerugian yang dialami warga, akibat rekayasa tol BORR ini yang tidak beres.

“Diantaranya, kami tersiksa dengan kemacetan parah saat pembangunan. Kini, setelah rampung, 6.000 Kepala Keluarga (KK) warga BCC malah tidak bisa menikmati akses, karena tidak bisa langsung masuk dari Ramp yang ada persis di depan BCC. Ini kan aneh, apalagi tarif kalau masuk dari akses Depo Bangunan sama Rp10 ribu, ya tidak adil,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Selain itu, lanjut dia, setelah rampung pun Jalan Sholeh Iskandar yang kini jadi sangat lebar ini tidak dilengkapi jembatan penyeberangan atau zebracross, sehingga warga kesulitan untuk menyeberang jalan karena laju kendaraan yang kencang. Sampai-sampai, sudah ada warga yang mengalami gegar otak karena tertabrak saat menyebrang jalan tersebut. “Belum lagi Ramp yang sangat landai, ada 19 ruas, padahal di Ramp Depo Bangunan saja cuma sembilan, ada apa?,” keluhnya.

Baca Juga  Brutal, Mahasiswa Serang Kampus Sendiri

Maka dari itu, pihaknya pun mengajukan usulan rekayasa lalu lintas yang akan disampaikan kepada operator tol. Yakni dibuatkan jembatan penyebrangan dan zebra cross, serta pembuatan trafic light di pintu masuk BCC dan lajur sebelum masuk tol. Jadi, warga BCC pun bisa akses langsung Tol BORR tanpa membahayakan keselamatan karena crossing dengan jalur lambat.

“Prinsipnya kami meminta tidak diresmikan dulu sebelum masalah ini clear, dari pihak terkait, kemen PU, Dishub, korlantas, dan sebagainya. Yang paling rasional dibuatkan trafic light, jadi yang nyebrang aman, kendaraan yang dari atau ke BCC, juga jalurnya aman. Juga yang mau ke Bogor atau masuk tol BORR dari Ramp On BCC, bisa teratur. Secara kecepatan atau arus lalu lintasnya,” tandasnya.

Pihaknya akan menyiapkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung, jika tidak ada itikad baik dari pengelola tol. “Sejauh ini koordinasinya, sudah kirim surat, sudah audiensi, namun seolah-olah PT MSJ ini lepas tangan. Mereka kan perencana sekaligus operator, yang harusnya tanggung jawab,” paparnya.

Baca Juga  Warga bakal Demo saat Peresmian Tol Bocimi

Di tempat yang sama, Kuasa Hukum warga BCC Zentoni mengungkapkan, sebelum mengajukan gugatan ke PTUN, pihaknya masih menunggu itikad baik dari pengelola Jalan Tol BORR menanggapi keluhan dari warga tersebut. Jika tidak ada tanggapan dari pihak terkait, dia memastikan akan mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum karena menimbulkan kerugian terhadap warga. “Seperti yang sudah disebutkan, diantaranya ada yang kecelakaan gara-gara sulit nyebrang dan soal tarif masuk tol. Gugatan ke PTUN tersebut untuk membatalkan Surat Keputusan (SK) Kementerian PUPR diantaranya soal tarif yang tidak rasional,” ucapnya,

Dia mengakui belum ada tenggat waktu terkait gugatan tersebut. Tergantung sejauh mana itikad baik dari pengelola setelah mendengar keluhan warga. “Kita lihat reaksi mereka dulu, apalagi dekat dengan momen Lebaran,” ujarnya. Hingga berita ini diturunkan, pihak PT MSJ belum bisa dimintai keterangan.

Namun sebelumnya, Humas PT. MSJ Ferry Siregar menjelaskan, pihaknya sudah mengadakan pertemuan dengan warga BCC pada 7 Mei 2018 lalu. Dalam pertemuan itu, pihaknya sudah menjelaskan kepada perwakilan warga bahwa persoalan akses dan rambu-rambu, regulatornya ialah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dan Korlantas. “Meski begitu, aspirasi warga sudah kami tampung, regulator juga sudah mendengar semua apa yang diinginkan warga. Hingga kini, kami masih menunggu keputusan dan solusi terbaik dari regulator,” ucapnya.

Baca Juga  30 Ribu Orang Tolak JK Jadi Cawapres

Walaupun begitu, kata dia, dari sudut pandang kajian yang sudah ada, wacana akses langsung masuk tol langsung dari BCC bisa jadi akan menimbulkan kerawanan lalu lintas dan kecelakaan. “Kalau sebutan di spanduk menyebut perencanaan pintu tol itu tidak cerdas karena dianggap tidak mempertimbangkan akses warga BCC, ya semua orang bisa berspekulasi atau menilai, itu hal yang wajar,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polresta Bogor Kota Bramastyo Priaji menuturkan, jika harus menuruti keinginan warga yang ingin masuk langsung ke pintu tersebut memang tidak bisa. Sebab, ada aturan dari Kemenhub soal akses masuk tol. “Diantaranya, radius 50 meter sebelum mulut jalan, ada pendukung keamanan, marka bahkan beton pembatas. Sebab kadang marka dilanggar ya,” ucap Bram.

Jika harus crossing langsung ke pintu tol, ia menilai sangat berisiko dan rawan kecelakaan, karena akan bersinggungan dengan arus kendaraan yang melaju di jalur lambat alias paling kiri. “Bahaya itu. Ya sementara sudah survei kok, dari PT MSJ, Korlantas, dan yang lainnya. Hasilnya memang tidak boleh,” tandasnya.’

Maka, opsi yang direncanakan pun membuka akses baru untuk BCC dari sebelum Pom Bensin Simpang Yasmin. “Rencana itu kan matang, tidak karena kepentingan warga siapa, tapi sesuai aturan, misal sudut elevasi, kedekatan bangunan, dan lainnya,” tuntasnya.

(ryn/c/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *