Bima Arya bakal Terapkan Aturan Jam Malam

by -

METROPOLITAN – Pasca kematian seorang siswa SMA di Kota Bogor akibat dibacok sekumpulan orang tak dikenal selepas nonton bareng (nobar) pertandingan sepak bola Piala Dunia pada Minggu (15/7) dini hari, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berencana menerbitkan aturan mengenai aktivitas jam malam di Kota Bogor. Aturan tersebut kini tengah digodok bersama Polresta Bogor Kota beserta TNI.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menjelaskan, kasus dugaan tawuran yang menyebabkan satu siswa meregang nyawa harus menjadi perhatian serius semua pihak, baik dari pemkot melalui berbagai dinas maupun pihak kepolisian dan aparat TNI. “Gesekan yang terjadi di malam hari, terlebih di wilayah rawan, itu bahaya. Apalagi ini melibatkan siswa di bawah umur. Kami akan menerapkan aturan jam malam. Setelah jam sebelas malam ada yang kumpul-kumpul tidak jelas di fasilitas publik, akan kami bubarkan,” katanya saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Politisi PAN ini melanjutkan, aturan itu nantinya akan berlaku di semua wilayah, kecuali kafe atau restoran yang memiliki izin untuk kegiatan di malam hari. Termasuk di sejumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) se-Kota Hujan. “Seperti di taman-taman atau warung-warung tempat banyak anak-anak kumpul. Nanti personel akan dikerahkan untuk meningkatkan patroli, terlebih selepas jam sebelas malam,” ucap Bima.

Baca Juga  Lapangan Sempur Jadi Taman Selfie Warga

Selain taman, sambungnya, ada beberapa titik jalanan yang juga jadi perhatian lebih karena kerapkali jadi tempat tawuran antarsiswa. Seperti di Jalan Dadali, Jalan Heulang, Jalan Ahmad Yani dan Jalan Pemuda. “Lainnya itu ada di sekitaran Suryakencana seperti Jalan Gang Aut hingga Sukasari,” imbuhnya.

Dia juga meminta Dinas Pendidikan (Disdik) memaksimalkan satgas pelajar yang selama ini bertugas mengawasi pergerakan siswa-siswa di luar sekolah, dengan meningkatkan kesadaran dan penyuluhan di sekolah-sekolah soal bahaya dan potensi kriminalitas di luar jam sekolah. “Tingkatkan pembinaan kepada anak-anak. Selain itu, pengawasan warga, khususnya keluarga harus ditingkatkan. Cepat-cepat informasikan ketika ada potensi rawan di lapangan. Orang tua harus bisa mengawasi pergerakan anak di luar jam sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, Pakar Pendidikan Kota Bogor Bibin Rubini mengatakan, terjadinya kasus tawuran pelajar merupakan kebiasaan perilaku buruk para pelajar dan peristiwa tersebut tidak bisa diperangi. Kendati para pelajar harus dididik.

“Tidak bisa main hakim dengan dikeluarkan begitu saja dari sekolah. Apabila ini terjadi, kasus tawuran akan terulang kembali. Kalau mereka diberhentikan, siapa yang akan mendidik dari sektor Lembaga Pendidikan (LP),” tanya Bibin.

Baca Juga  Jadi Guru Trading, Fakarich Jadi Tersangka

Kendati demikian, terdapat langkah lanjutan. Apabila para pelajar melakukan aksi kriminalitas, maka terdapat lembaga pendidikan lain yaitu Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang berfungsi mengembalikan tindakan buruk menjadi lebih baik. Jadi mereka yang melanggar hukum akan diproses kepolisian, hukum dan LP.

“Walaupun para pelajar di bawah umur ada pembinaannya. Kalau semuanya perilaku tersebut dilimpahkan ke Lembaga Pendidikan, menjadi tidak adil. Untuk itu, hal ini menjadi tanggung jawab bersama,” paparnya.

Artinya, saat hendak terjadi tawuran, masyarakat yang berada di sekitaran Tempat Kejadian Perkara (TKP) ikut terjun mencegah hal tersebut agar tidak terjadi. “Jadi bukan tanggung jawab sekolah saja, melainkan orang tua dan masyarakat,” terangnya.

Jadi, lanjutnya, jangan sampai Lembaga Pendidikan menjadi tumpuan sumpah serapah akibat perilaku buruk para pelajar dan tawuran ini merupakan perilaku menyimpang. “Seharusnya mereka bisa saling menyayangi dan mengasihi dan tidak melakukan hal seperti ini. Kalau kita membiarkan hal ini terjadi, sama saja kita membiarkan kesalahan itu terus berjalan,” paparnya.

Bibin mengatakan, kasus tawuran merupakan kebiasaan salah yang dibiarkan. “Saya setuju dengan tindakan wali kota, dandim dan kapolres Bogor yang ikut terjun langsung. Tapi menurut saya khusus dari SDM tenaga pengajar harus terdapat kajian lebih lanjut,” ujarnya.

Baca Juga  Ditanya Soal Momongan Siti Badriah Galau

Artinya, sambung dia, guru harus memiliki tiga karakteristik. Di antaranya mengajar sesuai bidang ilmu, sebagian besar waktunya dicurahkan untuk mengajar pelajar dan guru yang sebagian waktunya digunakan untuk memperhatikan anak didik mereka.

“Jadi kalau ada anak didik berperilaku menyimpang, maka sebetulnya peran guru yang harusnya dikedepankan. Tidak bisa disalahkan sekolahnya terlebih awal. Bisa jadi guru tidak mengenal karakteristik anak didik. Jadi bukan langsung ke sekolah tapi ke kepala sekolah maupun tenaga pengajarnya yang harus dikaji terlebih dulu,” jelasnya.

Ia mengaku lebih setuju agar para tenaga pengajar mengadakan rapat evaluasi mingguan agar perilaku menyimpang peserta didik tidak lagi terjadi. Baik membahas pembelajarannya hingga mengevaluasi kasus tawuran yang sudah terjadi sebelumnya. Sehingga terdapat solusi yang bisa diselesaikan.

“Pemkot Bogor saat ini sudah menyediakan sarana dan prasarana infastruktur seperti taman. Lokasi ini bisa dimanfaatkan pelajar untuk menyalurkan minat bakat dan kreativitasnya. Adapun tindakan perilaku menyimpang karena tawuran ini merupakan dari sekolah yang kurang favorit. Hal ini diduga mereka tidak mendapatkan perhatian,” pungkasnya. (ryn/yos/c/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.