Harga Jengkol Bikin Kantong Jebol

by -

METROPOLITAN – Seperti mengikuti jejak telur, harga jengkol di pasaran bikin kantong jebol. Di sejumlah pasar Kota dan Kabupaten Bogor, harganya mencapai Rp80 ribu per kilogram. Lebih mahal dua kali lipat dari harga daging ayam.

Kenaikan harga makanan yang memiliki bau khas ini bikin dongkol penikmat olahan jengkol. Lantaran harganya mahal, banyak pedagang di sejumlah pasar tradisional yang kini memilih tidak menjual jengkol lagi. Seperti yang dilakukan para pedagang di Pasar Bojonggede. Mayoritas para pedagang sayur kini memilih tak menjual jengkol karena harganya yang melambung tinggi. Akibatnya, keberadaan jengkol di Pasar Bojonggede pun kini terbilang langka.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagin) Kabupaten Bogor Jona Sijabat pun tak menampik akan hal itu. Bahkan, menurutnya, pasokan jengkol ke Kabupaten Bogor mulai sedikit berkurang. “Kenaikan harga jengkol cukup signifikan. Kemarin kami ke pasar tanya ke pedagang, ternyata pasokan pun tidak ada. Jadi jengkol itu kebanyakan dari Jawa,” ujarnya.

Ia mengaku saat ini pihaknya masih terus melakukan monitoring terhadap harga jengkol yang kian meroket. “Kami belum melakulan operasi pasar. Untuk sekarang baru sebatas monitoring,” ungkapnya.

Sementara di Kota Bogor, Kepala Unit Pasar Kebonkembang Iwan Arief Budiman membenarkan adanya kenaikan harga serupa untuk komoditas jengkol di Blok CD Pasar Kebonkembang. Kini harganya mencapai Rp70 ribu per kilogram, setelah sebelumnya stabil di kisaran Rp60 ribu sampai Rp65 ribu per kilogram. “Sejak tiga bulan lalu mah antara Rp60-65 ribu per kilogram, sekitaran segitu. Nah, belakangan naik lagi jadi Rp70 ribu per kilogram,” katanya.

Baca Juga  Gokil, Harga Jengkol Tembus Rp100 Ribu per Kilogram

Meski ada kenaikan harga, lanjutnya, stok panganan khas masyarakat Jawa Barat itu cenderung aman di bulan ini. “Ada saja, tidak sampai kosong banget. Memang kenaikan ada, apalagi sejak Lebaran. Mungkin di distribusi atau produksi,” ucap mantan Kepala Unit Pasar Bogor itu.

Senada, kenaikan harga jengkol setelah Lebaran itu juga terjadi di Pasar Bogor. Bahkan di pasar yang berlokasi di Jalan Suryakencana itu stok jengkol di beberapa pedagang sedang kosong. “Itu lagi susah. Minggu lalu sempat segitu (Rp80 ribu). Belum tahu sih kendalanya di mana, hanya saja memang pasca-Lebaran harganya jadi naik,” kata Bagian Tata Usaha Pasar Bogor, Vera.

Kepala Unit Pasar Jambu Dua Andrian Hikmatulah mengungkapkan, sejak bulan lalu ada kenaikan harga jengkol hingga Rp70 ribu per kilogramnya. “selepas Lebaran, stabilnya di Rp65-70 ribu. Itu lebih tinggi dari harga biasanya. Sementara ketersediaan jengkol mah aman,” imbuhnya.

Setahun lalu, harga jengkol juga sempat melambung hingga Rp90 ribu. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, tingginya harga komoditas itu disebabkan makin langkanya pohon jengkol. Menurutnya, banyak pohon jengkol yang ditebang untuk dimanfaatkan batang kayunya. “Kayu pohon jengkol itu dipakai buat furnitur. Harganya luar biasa,” ujarnya.

Baca Juga  Kampus IPB Latih PKKJadi Motivator Kosumen 2020

Meski harga jengkol melambung​ tinggi, Mendag mengaku tidak memiliki strategi khusus untuk membuat harga komoditas tersebut kembali stabil. Ia berargumen, jengkol hanya dikonsumsi sebagian orang dan bukan merupakan bahan pangan pokok. “Kami lebih memprioritaskan kepada bahan pokok. Ini (jengkol, red) kebutuhan marginal,” ucapnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman justru berencana mengembangkan tanaman jengkol. Untuk tahap awal, ia mengaku akan menyiapkan lahan 5.000 hektare untuk ditanamai tumbuhan yang buahnya beraroma khas tersebut.

PEMBUNUH SEL KANKER

Meski terkenal dengan bau tajamnya, jengkol nyatanya masih menjadi makanan favorit bagi sebagian orang. Bahkan beberapa artis pun mengaku menyukai makanan yang kaya akan manfaat ini. Tak tanggung-tanggung, manfaat jengkol bahkan disebut bisa 10.000 lebih efektif dibanding kemoterapi. Lantas, benarkah hal tersebut?

Lembaga kesehatan Swedia, Institute of Health Sciences, memang menyatakan bahwa jengkol memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik. Tak hanya mengandung protein, kalsium, fosfor dan zat besi, jengkol juga mengandung banyak vitamin. Seperti vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C.

Senyawa yang terdapat dalam jengkol inilah yang bisa memberi manfaat pada tubuh, termasuk membunuh sel kanker. Pernyataan ini pun lantas diperkuat dengan hasil penelitian dari Universitas Sains Malaysia. Di mana penelitian ini dibuat untuk menunjukkan pengaruh ekstraksi jengkol dalam menghambat pertumbuhan penyakit seperti kanker, peradangan kronis di sistem imun dan diabetes. Hasilnya, ekstraksi jengkol mengandung begitu banyak antioksidan.

Baca Juga  Wow, Harga Jengkol di Bogor Tembus Rp100 Ribu

Saat diujicobakan pada sel-sel tikus, penelitian ini menunjukkan hasil yang sangat positif. Di mana ekstrak jengkol bisa memperlambat pertembuhan sel kanker dan penyakit lain yang menyebabkan peradangan dalam tubuh. Selain itu, penelitian lain dari Institute of Health Sciences juga membenarkan bahwa senyawa ini 10.000 kali lebih baik dari produk adriamycin, obat kemoterapi.

Jengkol terbukti secara sains memiliki dua manfaat untuk manusia dalam menghadapi sel kanker. Pertama, jengkol bisa memperlambat pertumbuhan sel kanker. Kedua, jengkol mampu melawan sel kanker yang telah telanjur tumbuh. Hal ini bisa menjadi alternatif pengobatan untuk kanker.

Hingga kini, manfaat jengkol untuk alternatif pengobatan kanker pun masih terus dikembangkan para peneliti. Tak hanya melawan kanker, jengkol juga sangat baik dikonsumsi untuk penderita penyakit lainnya. Misalnya peradangan pada lambung, penyakit infeksi cacing di saluran pencernaan, diabetes hingga mencegah anemia.

Namun meskipun memiliki sejumlah manfaat, tetapi konsumsi jengkol juga tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus diikuti dengan konsumsi air putih yang banyak karena jengkol mengandung asam yang dapat mempengaruhi kinerja ginjal jika terlalu banyak. (ryn/c/els/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.