AKHIRNYA AKU BEBAS DARI NARKOBA (2)

by -

METROPOLITAN – Keesokan paginya pengaruh semangat itu tidak ada lagi. Setelah makan siang aku memakai sabu lagi. Demikian seterusnya. Aku pun sepakat patungan dengan temanku. Di satu sisi, kehidupan kantor juga tidak kalah seru, kegiatan dugem juga berlangsung dengan terus. Pun­caknya adalah pertemuan antara kehidupanku di kos dengan di kantor. Klop sudah.

HARI hari kulalui dengan dugem, sabu dan kehidupan bebas. Sampai suatu saat aku bertemu teman dari temanku yang anak pengusaha kaya raya di Surabaya bernama Leo (samaran). Pertama aku bertemu Leo kesanku percaya bahwa dia adalah golongan borju dengan baju yang perlente dan kalung emas besar serta gelang emas.

Baca Juga  Selain Nyabu, Nunung juga Konsumsi Ekstasi

Leo salaman dengan lemas ke aku, wajahnya pucat dan te­manku membisikku bahwa Leo sakaw.

Singkat kata akhirnya aku bawa Leo mendapatkan sabu ke sebuah tempat karaoke. Setelah 2 – 3 sedotan akhirnya Leo mulai kembali normal dan segar lagi. Dia mulai segar dan langs­ung mandi. Setelah mandi Leo kembali memakai beberapa sedotan sabu dan akhirnya kami bercakap dan mengobrol dengan asyiknya.

Bercerita mulai bisnis, kota asal dan masa-masa sekolah. Sampai akhirnya Leo bertanya dengan santai kepadaku. Robert, aku mau bertanya agak pribadi, maaf sebelumnya.. dan aku jawab silahkan saja tanya kan tidak dipungut pajak. Sambil bercanda, Leo mulai agak serius sambil mendekat bertanya, “aku mau tanya kenapa kamu memakai sabu-sabu ini?”

Baca Juga  Wilayah Perbatasan Bogor Rawan Peredaran Narkoba

Aku diam sejenak dan sambil menatap Leo aku menjawab, “yah just for fun saja.. karena sekarang gajiku sudah bagus. Aku mendapatkan kesenangan dan semangat saat memakai sabu-sabu ini.. serta kebersamaan dengan teman-teman..yah pokoknya enjoy..!”

Leo memandangku seperti tertegun dan dia mendekat sambil menunjuk dadaku, ” Berarti kamu adalah orang terbodoh yang pernah aku temui!” Aku pun tersinggung dan bertanya ke Leo, “kenapa kamu mengatakan demikian?”

Leo bangkit dan menyobek kertas dari buku yang ada di kertas kerjanya, dan dia menggambar satu lengkungan ke bawah yang membentuk se­perti jalan dan kemudian ada jurangnya, dan di dalam jurang itu dia menggambar seperti bentuk orang, dan di atas jurang sebelah tepi dia juga menggambar bentuk seperti orang juga. Leo kemudian berkata sam­bil menunjuk dengan pen bentuk orang yang di bawah jurang, “ini adalah aku…, aku sudah di dasar jurang dan tidak bisa atau sang­at sulit sekali untuk keluar dari jurang ini.

Baca Juga  Narkoba Rumahan Sasar Anak Muda

Leave a Reply

Your email address will not be published.