Istriku Membuat Aku Menyesal

by -

Agung, itulah namaku. Aku sudah memiliki istri yang merupakan teman kuliah sendiri. Maya namanya.  Saat ini sudah 10 tahun pernikahan kami. Tapi aku merasa ada saja ketidakcocokan di antara kami. Bahkan hal hal kecil sering jadi pemicu pertengkaran rumah tanggaku. Termasuk saat aku tahu dia membeli meja makan tanpa memberitahu.

Tepat di hari ulang tahunnya, aku merasa begitu kesal. Kecupan di kening yang biasa aku lakukan aku abaikan. Itu pun karena masalah sepele. Karena dia telat membangukan ku kerja. Rasanya malas sekali aku bertemu dengannya. Aku pergi begitu saja tanpa berpamitan.

Sampai waktunya pulang kantor aku justru pergi ke lapangan futsal dengan teman-temanku. Padahal, saat itu Maya memberitahu telah menunggu ku di rumah. Aku tidak meresponnya meski sudah tiga kali berusaha menelponku.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Hujan turun sangat deras, sehingga aku memutuskan untuk santai sejenak di cafe sambil melepas penat. Sudah larut malam, tapi
hujan masih turun dengan lebatnya. Seperti biasanya, kalau sudah hujan seperti ini, tiap sudut kota pasti banjir. Aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Maya membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, 1 jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di rumah.

Kulihat Maya tertidur di sofa ruang tamu. Sempat aku berhenti di
hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 10 tahun sejak duduk di bangku kuliah yang kini telah kunikahi selama 7 tahun, tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Maya menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Maya, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak. Hingga batinya terasa tercabik. (*/feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published.