Ekonomi Penyebab Utama ODGJ

by -
Kasus pemasungan terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) masih dijumpai di wilayah Kabupaten Tuban. Santam (32) yang merupakan warga Dusun Gowah, Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban sudah terpasung sejak usia 15 tahun. Menurut Parni yang juga kakaknya, kelainan sudah diderita sejak lahir. Anak terakhir dari 7 bersaudara ini dipasung lantaran suka merusak barang. Karena itu keluarga memasungnya diruangan bekas kandang dengan ukuran 7x8 meter. Dengan kaki diikat tali tampar dan tangan dengan tali kain. “Kami sudah mengajukan 2 tahun lalu ke kepala desa namun belum ada tindakan sampai saat ini,”ujar Parni. Karena hanya bekerja “Sebagai buruh tani yang tidak mampu, keluarga sangat berharap ada tidakan dari pemerintah,”imbuhnya.

 METROPOLITAN – Jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kota Sukabumi hingga kini tercatat sebanyak 370 orang. Penyebab dari gangguan jiwa ratusan orang tersebut rata-rata akibat tekanan ekonomi keluarga.

“Jumlah ODGJ di Sukabumi ber­dasarkan penghitungan sekitar satu per mil dari jumlah penduduk men­capai sekitar 370 orang yang terdata,’’ (Dinsos) Kota Sukabumi Aang Zaenudin.

Ratusan ODGJ itu tersebar merata di tujuh kecamatan yang ada di Kota Sukabumi. Warga yang mengalami gang­guan jiwa ini, kata Aaang, rata-rata disebabkan adanya tekanan ekonomi keluarga dan perlakuan sosial. Mis­alkan ketika seseorang war­ga menganggur dan melamun serta tidak dipedulikan orang terdekat, muncul rangsangan penyakit depresi mental.

Baca Juga  ODGJ Di Barengkok Dibawa Ke Marzuki Mahdi

Karena itu, lanjut Aang, pe­merintah berupaya bagai­mana keluarga tidak punya stigma gila terhadap yang bersangkutan. Namun kelu­arga dan orang terdekat se­harusnya memberikan kasih sayang dan pengurusan yang memanusiakan manusia.

Sebenarnya, jelas Aang, jika seseorang mengalami gangguan jiwa ringan itu masih bisa ditangani kelu­arga dan puskesmas. Jika sudah masuk kategori berat maka bisa dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan kesehatan yang lebih baik.

Setelah penanganan kese­hatan, sambung Aang, Dinsos memberikan pelayanan so­sial kepada warga tersebut. Khususnya mencari tahu sum­ber permasalahan yang dia­lami penderita ODGJ tersebut.

Aang menerangkan, ODGJ yang muncul ke permukaan biasanya adalah penderita yang sudah mulai menga­lami gangguan kejiwaan akut. Cirinya mengamuk sehingga mengganggu kea­manan dan ketertiban di tengah masyarakat. Semen­tara hingga kini di Kota Sukabumi masih dinyatakan bebas pasung. Hal ini dise­babkan tidak adanya te­muan ODGJ yang dipasung dalam beberapa tahun ter­akhir.

Baca Juga  Halte di Bogor Jadi Sarang ODGJ

Menurut Aang, kasus ODGJ di Kota Sukabumi sebenarnya tidak terlalu tinggi bila di­bandingkan dengan daerah lain. Contohnya pada satu bulan terakhir ini saja hanya dilaporkan dua kasus ODGJ di Kecamatan Lembursitu dan Warudoyong.

Untuk mendeteksi adanya ODGJ, tambah Aang, petugas mengoptimalkan peran mit­ra-mitra sosial seperti Petu­gas Sosial Masyarakat (PSM) di kelurahan dan Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK). Nantinya jika ma­syarakat menemukan ODGJ di daerah tempat tinggalnya maka bisa langsung mela­porkan ke PSM atau TKSK. (rep/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *