Bima Arya Cs ‘Booking’ PSK 700 Ribuan

by -
FOTO: FADLI/METROPOLITAN/JPNN

METROPOLITAN – Belum luput dari ingatan soal penggerebekan pesta seks di Apartemen Bogor Valley pada 30 Agustus lalu, kasus serupa terulang kembali. Namun, kali ini Wali Kota Bogor Bima Arya yang ‘mem-booking’ Pekerja Seks Komersial (PSK) itu lewat anak buahnya di Satpol PP. Bima yang merasa gerah dengan laporan adanya praktik prostitusi di apartemen itu menyuruh timnya melakukan investigasi hingga berhasil menciduk dua PSK bertarif Rp700 ribuan.

Praktik prostitusi online tampaknya masih menjadi per­soalan yang enggan pergi dari Kota Bogor. Terbukti, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berhasil menangkap basah dua PSK yang masih bau kencur, menjajakan diri seharga Rp700 ribuan mela­lui media sosial dan melakukan praktik haram itu di Apartemen Bogor Valley, Kecamatan Tanah­sareal, kemarin.

Tim investigasi Satpol PP Kota Bogor pun menelusuri jejak para pelaku prostitusi. Hingga tim yang dikomandoi Heri Kar­nadi itu berhasil menjebak PSK melalui transaksi percakapan media sosial.

Setelah sepakat soal harga, pe­tugas pun mendatangi kamar B1807 yang berada di lantai 18 hunian vertikal tersebut. Di unit dengan dua kamar tidur itu, me­reka tak berkutik saat Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto be­serta petugas gabungan dan Kecamatan Tanahsareal menci­duk keduanya.

Salah satu PSK tersebut, SF (18), asal Kota Depok, mengaku baru sekali ini menjajakan diri di Apar­temen Bogor Valley. Ia beserta TS (17) menjajakan diri dengan sebutan Open BO kepada lelaki hidung belang melalui munci­kari. Mereka berkilah tidak me­netap di Kota Bogor tapi sekadar main. “Harga segitu sudah full service, main short time, bayar cash, nggak mau transfer,” ucap perempuan dengan tato di be­berapa bagian tubuhnya tersebut.

SF yang putus sekolah dan me­lanjutkan pendidikan dengan Paket C itu mengaku menyewa unit kamar per hari dengan biaya Rp450 ribu. Uang Rp750 ribu yang didapat, Rp200-250 ribu diberi­kan untuk muncikari. Sedangkan sisanya untuk mereka yang ‘main’. “Di sini baru sekali. Tempat lain ya pernah, kalau ramai bisa dua atau tiga orang per hari,” ujarnya.

Bima Arya pun blakblakan soal penggerebekan tersebut. Ia mengaku sering mendapat la­poran dari masyarakat terkait adanya praktik prostitusi di apar­temen Jalan Soleh Iskandar, Tanahsareal itu. Sampai akhirnya ia menginstruksikan Satpol PP Kota Bogor membentuk tim guna menyelidiki kebenaran laporan warga tersebut. Tim ke­mudian melakukan pengintaian hingga menemukan praktik pro­stitusi yang memanfaatkan ap­likasi pertemanan online di apartemen itu.

Tim juga menggerebek sebuah kamar di lantai 18 tower A. Saat menggerebek, didapati dua re­maja perempuan dengan satu di antaranya sudah tidak ber­busana. “Berdasarkan penga­kuan mereka, tarifnya Rp750 ribu untuk sekali main atau short time. Yang lebih mengejutkan, ditemukan alat untuk penggu­naan narkoba dan obat keras. Jadi kemungkinan ada praktik narkotika juga selain prostitusi,” ungkap Bima.

Kedua perempuan usia seko­lah itu tidak bisa berkilah saat Bima Arya menemukan satu boks alat kontrasepsi jenis kon­dom. “Ponselnya mereka juga didapati percakapan sedang melakukan praktik prostitusi online. Disebutkan Rp750 ribu satu kali main sudah include room,” ujar Bima.

Remaja itu juga mengaku me­miliki muncikari yang biasa ‘menjual’ mereka ke lelaki hidung belang. Sayangnya saat digerebek, sang muncikari sedang tidak di tempat. Pemkot pun akan mela­porkan hal ini ke Kemenkomin­fo terkait aplikasi yang biasa digunakan PSK. “Bagaimana dengan mudah mereka melaku­kan praktik prostitusi. Kita juga fokus kejar si germonya ini,” ka­tanya.

Bima menyatakan ke depan tetap akan melakukan penga­wasan terhadap apartemen lain­nya. “Dalam waktu dekat, kami akan undang pengelola hotel dan apartemen. Akan dievaluasi sis­tem keamanannya seperti apa, karena tadi didapati bukti akses sangat terbuka. Bisa keluar ma­suk seenaknya, kepemilikan bisa dengan mudah berpindah. Kita akan evaluasi semua agar tidak mudah dijadikan tempat prostitusi, apartemen di Kota Bogor,” ungkapnya.

Suami Yane Ardian itu menga­ku untuk sementara di Kota Bo­gor baru Apartemen Bogor Val­ley yang kedapatan banyak la­poran soal adanya praktik pro­stitusi online. “Hotel atau apar­temen lain? Sementara baru di sini informasinya. Di tempat lain belum. Tapi semua akan kami tertibkan dan kami evaluasi,” tandasnya.

Di tempat yang sama, pihak pengelola Apartemen Bogor Val­ley yang namanya enggan di­korankan menuturkan, para PSK ini biasa bertransaksi dan prak­tik dengan sistem pindah, tidak menetap. Apalagi di hunian vertikal ini memang ada bebe­rapa unit yang disewakan hanya untuk satu hari saja. “Memang ada sewa harian, yang disewa dari pemilik. Tidak bisa terlalu kontrol karena kan hak pemilik. Kami mengamankan saja. Ini dipakai celah,” tuntasnya.

Sebelum kasus ini, penggere­bekan serupa juga pernah ter­jadi pada Agustus lalu. Seba­nyak tujuh Anak Baru Gede (ABG) terciduk pesta seks di Apartemen Bogor Valley, Kota Bogor, Jawa Barat. Tiga di antaranya remaja wanita dan empat lainnya pria belasan tahun. (ryn/c/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *