Kaum Milenial Rawan Termakan Hoaks di Pemilu 2019

by -

METROPOLITAN – Kampanye hitam dan hoaks menghantui pemilu 2019. Jagat maya ataupun media sosial (medsos) bakal dijadikan ajang saling serang antarkubu. Bahkan, hoaks diprediksi akan meningkat seiring makin dekatnya pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) secara serentak pada 17 April 2019.

Hoaks terjadi paling banyak menyasar ke generasi yang lahir pada era 1980 hingga 2000-an, yang merupakan generasi milenial, yang dinilai paling rentan ‘tertelan’ berita bohong atau hoaks. Menanggapi hal tersebut, Kabid Komunikasi dan Informasi Publik (Diskominfo) Kota Bogor Andi Aslmiah Achmad mengatakan, berita hoaks dan ujaran kebencian di tahun politik bakal marak terjadi.

Untuk mengatasinya, masyarakat perlu diedukasi agar tidak cepat mempercayai ataupun menyebarluaskan hoaks. ”Biasanya berita hoaks dan ujaran kebencian terjadi di medsos dengan sasaran generasi milenial,” ujarnya. Ia menjelaskan, paling dominan penyebaran hoaks itu terjadi di Facebook, Twitter dan grup WhatsApp.

Baca Juga  Gagal di Pilbup, GH Coba Peruntungan di Pileg

Padahal, medsos semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan kontenkonten positif. Sayangnya, beberapa pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif. Untuk meminimalisasinya, Diskominfo mengimbau masyarakat Kota Bogor agar berhatihati dalam mencermati informasi yang beredar, terutama berita hoaks di medsos.

”Diskominfo terus mengedukasi masyarakat agar tidak terhasut hoaks lewat Radio Sipatahunan, Web Pemkot Bogor,” katanya. Ia mengaku pihaknya juga telah merangkul kalangan generasi milenial untuk mengikuti edukasi mendalam terkait fenomena penyebaran berita hoaks.

Diskominfo pusat juga terus berupaya memerangi penyebaran hoaks atau berita palsu dengan cara menyusun undang-undang yang di dalamnya mengatur sanksi bagi pengguna internet yang turut menyebarkan konten negatif. Termasuk memblokir kontens hoaks dan yang berseliweran di medsos. “Diskominfo di wilayah tidak bisa memblokir konten hoaks, ujaran kebencian dan isu SARA, karena kewenangannya oleh pusat.

Baca Juga  Ngurus KTP-el Bisa sampai Pukul 21:00 WIB

Pihaknya hanya mengedukasi saja,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Bogor Bagus Maulana Muhammad mengatakan, maraknya hoaks, hate speech atau ujaran kebencian dan black campaign atau kampanye hitam serta tingginya resistensi jelang pemilu 2019, tak luput dari perhatian DPD KNPI Kota Bogor.

“Kami harap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mau bersama-sama memerangi hoaks dan black campaign. Kami kaum muda ingin turut menyukseskan hajat demokrasi di Kota Bogor,” harap Bagus. Bagus menilai kaum milenial bagaikan kertas putih yang siap diisi tantangan.

Namun tantangan ini yang sering kelewatan hingga tergiring isu hoaks. Sehingga kaum milenial harus mampu memfilter proses perkembangan yang terjadi di pemilu 2019. Memeranginya harus ada ikhtiar dari individunya dan pelaku penyebar hoaks juga harus diusut tuntas pihak kepolisian. “Salah satu ikhtiar melawan hoaks dan ujaran kebencian adalah menyamakan persepsi dan terus mengampanyekan dengan mendeklarasikan diri bahwa kita generasi yang antihoaks dan ujaran kebencian,” pungkasnya. (ads/b/sal/run)

Baca Juga  Menjelang Pemilihan Legislatif 2019 Siti Nurmaulina Unggul di Hasil Polling Sementara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *