Mertua Ingin Pernikahanku Dibatalkan (1)

by -

METROPOLITAN – Aku sudah mencicip sedikit banyak pahit manis kehidupan berumah tangga selama empat tahun. Dan alhamdulillah menurutku, pernikahanku mencapai level sangat bahagia. Aku juga bersyukur mempunyai suami ideal dan dikaruniai seorang anak perempuan cantik.

Selama ini mungkin yang orang lain nilai hanyalah ada kebahagiaan yang terlihat dari keluarga kami, rumah tangga yang mulus dan kehidupan yang nyaris sempurna. Tetapi mereka tak pernah tahu apa yang pernah Aku dan Suamiku alami sebelum mencapai pada titik seperti sekarang.

Bulan Agustus, 4 tahun lalu di hari pernikahan kami. Ketika rombongan keluarga suami datang, hatiku ini

menjadi begitu tenang. Namun ada yang hilang di sana, formasi keluarga tidak lengkap. Tak ada ibu di sana, ya ibu mertuaku tidak menghadiri hari spesial salah satu putranya itu. Bukan tanpa sebab, karena memang saat aku memutuskan menikah dengan suami ada sedikit pertentangan dari beliau. Walau sebelumnya antara kedua belah pihak keluarga sudah saling menyetujui mengenai hari dan tanggal pernikahan kami.

Konflik dimulai saat persiapan pernikahan sudah 90 persen. Ketika itu, ibu mertuaku menginginkan pernikahan kami diundur karena suatu alasan. Undangan yang sudah disebar, tempat, dan segala ubo rampe yang sudah dipesan tak memungkinkan untuk dibatalkan. Tapi suamiku tegas mengambil keputusan untuk tetap pada prinsipnya. Dia akan menikahiku sesuai dengan tanggal yang disepakati dulu. Aku tahu, dia akan terluka jika menentang ibu. Tapi dia selalu menyakinkan padaku bahwa semua akan baik-baik saja. “Ayo kita berjuang bersama,” katanya waktu itu.

Benar saja, selama dua bulan sebelum hari pernikahan. Ujian berat kami berdua datang dari ibu mertuaku. Segala macam hujatan tertuju padaku, seakan semua aku yang salah. Pun tak luput dengan suamiku yang setiap hari mendapat makian, dianggap anak durhaka karena tak menuruti kemauan Ibu, bahkan sempat diusir dari rumah. Semua sumpah serapah tertuang, seolah membentuk belati tajam yang menorehkan lara di hati. Setiap hari seolah menjadi hari buruk yang mau tidak mau harus aku lalui, terutama untuk suamiku. Seperti yang diceritakan seseorang pada vemale.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *