Proyek Masjid Agung Dikeker Kejari

by -
FOTO:FADLI/METROPOLITAN

METROPOLITAN – Terbengkalai se­jak Maret 2017, proyek pembangunan Masjid Agung di Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Bogor Tengah, kembali di­lanjutkan tahun ini. Anggaran Penda­patan Belanja Daerah (APBD) 2018 senilai Rp8,6 miliar pun dikucurkan untuk menyelesaikan 34 persen dari total keseluruhan desain awal.

Hampir tiga bulan, Tim Pengawal, Pengamanan Pemerintah dan Pembangu­nan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bogor ikut memelototi proyek ini. Saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) Kamis (18/10), tim menemukan beberapa dari proyek yang dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) memakan waktu 150 hari kalender itu.

“Kami awasi dan mewanti-wanti agar proyek ini jangan sampai putus kontrak, seperti pengalaman saat pembangunan pertama yang berakhir tragis. Ditinggal kontraktor, mangkrak, karena ketidak­beresan kontraktor proyek. Makanya dikawal terus,” terang Kepala Seksi In­telijen Kejari Kota Bogor, Widiyanto Nugroho, kemarin.

Baca Juga  Pemkot Buka Lagi Jalan Sudirman

Dari pemeriksaan di lapangan, tim menemukan beberapa temuan. Di an­taranya rakitan kolom yang tidak se­suai ukuran. Saat mengetuk bagian keramik yang tengah dibangun untuk kamar mandi dan tempat wudu jamaah, terasa tidak penuh dan seperti rapuh. “Kayak kopong lah. Ini kan bahaya. Untuk rakitan kolom itu setelah kita cek, baru tuh diperbaiki langsung,” bebernya.­

Jika melihat sisa waktu yang ada, sambung dia, kontraktor harus benar-benar fokus dalam pembangunan. Kalau perlu ada penambahan wak­tu kerja atau jumlah pekerja agar sesuai target. “Jangan sampai lewat waktu. Apalagi sampai ditinggal pemborong. Lembur saja kalau bisa, kejar target November selesai. Berkaca pada pengalaman lalu, jangan cuma bilang ‘siap siap’ saja, tapi nggak sesuai dan akhirnya malah putus kontrak,” paparnya.

Baca Juga  BPPD Optimis Museum Pertanian Dongkrak PAD

Ia berharap seluruh organ-organ pengadaan bisa ber­fungsi optimal, sebagaimana tugas pokok fungsi (tupoksi). Sehingga berjalan baik dan pembangunan sarana-prasara­na rumah ibadah yang sudah ada sejak 70-an tidak berma­salah lagi. “Intinya, jangan bercanda lah dengan rumah ibadah. Kami awasi terus, mi­nimal sekali dalam seminggu akan kami pantau ke lokasi,” tuntasnya. (ryn/b/yok/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.