Sakdiyah, Komedian Asal Indonesia Masuk 100 BBC Women Ngumpet dari Keluarga, Melambung ke Mancanegara

by -

METROPOLITAN – Piawai menyampaikan kritik sosial dalam balutan lelucon, sukses mengantarkan Sakdiyah Ma’ruf menyabet penghargaan bergengsi. Siapa sangka, lewat cerita jenaka yang dibawakannya, wanita yang pertama kali dikenal publik lewat acara Stand-Up Comedy Indonesia (SUCI) Season1 itu terkenal di mancanegara. Sampai-sampai ia masuk daftar BBC 100 Women.

Bagi wanita yang akrab dipanggil Diyah ini, stand-up comedy adalah panggungnya untuk berekspresi.

sudah berhasil ditorehkannya. Termasuk saat ia diganjar penghargaan dari Amnesty International, Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent di Oslo, Norwegia, pada 2015. Berbagai prestasi membanggakan Diyah mengaku sudah piawai membuat sendiri skit (lakon pendek, red) sejak kecil di halaman belakang rumahnya.

“Komedi menjadi satu-satunya cara saya untuk bicara tentang apa yang saya rasakan, perihal persoalan wanita secara umum atau sebagai wanita muslim, hingga masalah anak muda dan negara di lingkungan kehidupan saya,” ujar Diyah.

Baca Juga  Buruh Terus Berdatangan, Menyemut di Balai Kota Bogor Tolak UU Ciptaker

Padahal, saat awal meniti karier, ia melakukannya sembunyi-sembunyi dari keluarganya. “Salah satu alasan melakukannya secara diam-diam karena mental minoritas. Saya berasal dari komunitas keturunan Arab di Pekalongan. Mental seperti itu sempat menghalangi saya untuk berkarya dan berekspresi karena takut mencoreng nama baik komunitas,” tambahnya.

Kini siapa sangka lewat hobinya itu, Diah terpilih dalam 100 BBC Women atau perempuan paling berpengaruh dan menginspirasi di dunia pada 2018 versi BBC.

Dilansir dari BBC, perempuan yang masuk daftar itu adalah mereka yang berusia 15 hingga 94 tahun, mulai dari pemimpin, pelopor dan pahlawan sehari-hari. Mereka berasal dari 60 negara.

Sakdiyah Ma’ruf (36) sendiri berada di urutan 54. Stand-up komedian itu dinilai layak menerima penghargaan ini karena menggunakan komedi sebagai cara menantang ekstremisme Islam dan kekerasan terhadap perempuan.

Baca Juga  Tuduhan Menistakan Agama ini Jawaban dari Atta Halilintar

Dalam akun Twitter-nya, Diyah pun sempat mengucapkan rasa terima kasihnya.

“Terima kasih kepada @AntoniaMarrero @MoralCourage @IrshadManji karena telah memercayai saya sejak awal dan dengan sabar mentoring saya. Dan saya persembahkan ini untuk Anda, Toni. Percakapan kami telah membantu saya berkembang,” tulisnya di akun @sakdiyahmaruf.

Tokoh yang berhasil menempati urutan satu dalam daftar tersebut adalah Abisoye Ajayi-Akinfolarin asal Nigeria, seorang sosial entrepreneur berusia 33 tahun, sekaligus pendiri GirlsCoding, sebuah LSM yang mengajarkan perempuan dalam membuat kode, merancang dan membangun situs web untuk menyelesaikan berbagai persoalan di komunitas mereka. (fem/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *