Kejagung Usut Markas Sekte Baru Di Babakanmadang

by -

METROPOLITAN – Munculnya sekte baru di Desa Citaringgul, Kecamatan Babakanamdang membuat Kejaksaaan Agung (Kejagung) turun tangan. Sampai-sampai,Jaksa Agung Muda Intelijen di bawah kendali Direktur Sosial Budaya dan Kemasyarakatan atau Direktur B dikerahkan untuk mengusut markasnya yang berlokasi di wilayah Kabupaten Bogor.

Kejaksaan Agung melakukan pengusutan terkait kasus munculnya aliran kepercayaan baru yakni Shinsei Bukkyo yang dimotori oleh Rudy Chandra.

Direktur B, Yusuf, mengatakan berdasarkan laporan masyarakat, aliran sekte Shinsei Bukkyo yang menyebut Rudi Chandra sebagai utusan Tuhan dinilai  menganggu ketenteraman dan ketertiban umum di Desa Citarunggal, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

“Karena itu kami sedang memonitor kegiatan sekte Shinsei Bukkyo tersebut, dengan  Bakor (Badan Koordinasi) Pakem (Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat) Kabupaten Bogor,” ucap Yusuf dalam keterangan tertulis.

Yusuf menandaskan, pihaknya telah meminta Bakor Pakem setempat menggelar rapat untuk mengusut kebenaran informasi tersebut sekaligus menjaga ketentraman masyarakat.

Nantinya pimpinan Kejagung menerima laporan secara berjenjang hingga 4 Januari 2019 mendatang

“Hal ini dilakukan agar terjaga ketenteraman dan ketertiban umum dalam rangka deteksi dini, cipta kondisi dan cipta opini, supaya memerintahkan Kepala Kejaksaan Negeri Cibinong, selaku Ketua Bakor Pakem melakukan rapat koordinasi dan sinergitas dengan instansi/lembaga terkait,” ungkap Yusuf.

Untuk diketahui. Aliran Shinsei Bukkyo menyatakan masuk sebagai agama Budha. Namun aliran itu justru belum masuk di Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi).

Baca Juga  Pijat Esek-esek Marak Di Gunungputri Mui: Jangan Sampai Warga Turun Tangan

Namun, Walubi sendiri tidak mengakui aliran tersebut. menurut Walubi, Aliran Buddha dari Jepang yang ada dan diakui Walubi adalah Nichiren Shoshu. “Di dalam Walubi tidak ada nama aliran Shinsei Bukkyo, saya baru dengar yang namanya Shinsei Bukkyo, “ kata Kepala Humas Walubi, Toto Sugiharto,

Walubi merupakan wadah kebersamaan organisasi umat Buddha Indonesia yang terdiri dari Majelis-Majelis Agama Buddha, Lembaga Keagamaan Buddha, Dewan Sangha, Badan Kehormatan dan Wadah Kemasyarakatan yang bernafaskan agama Budha.

Adanya instruksi Kejagung untuk mengusut markas sekte tersebut ditanggapi pihak Muspika Kecamatan Babakanmadang.

Camat Babakanmadang,Yudi Santosa mengakui adanya sekte tersebut. Menurutnya, tempat untuk kegiatan para pengikut Shinsei Bukkyo pernah ditutup pada dua tahun silam.

“Sebelum saya jadi camat itu pernah ditutup. Karena sekarang sudah tidak termonitor mungkin muncul lagi. Tapi kami sudha koordinasi dengan MUI dan Kemenang untuk pemanggilan pihak yang bersangkutan untuk menyelesaikan masalahnya,”kata Yudi.

Disinggung soal adanya indikasi aliran sesat, Yudi tak menjawab. Alasannya, pihak kecamatan hanya fokus pada izin bangunan yang dipakai kelompok mereka.

“Kalau itu (aliran sesat-red) bukan ranah saya. Yang jelas dulu tempat itu peruntukannya buat gdang bukan tempat ibadah,”terangnya.

Baca Juga  MUI Didesak Bikin Fatwa Larangan Anjing Masuk Masjid

Sementara dari informasi warga yang ia terima, tidak jarang kelompok mereka yang mengadakan kegiatan di dalam gedung tersebut.

“Itu tertutup untuk umum. Kebanyakan juga bukan orang sini, tapi dari luar semua,”kata Yudi.

Tak puas pada keterangan Camat, Metropolitan  kembali menanyakan soal sekte itu pada pihak kepolisian. Kapolsek Babakan Madang Kompol Wawan Wahyudin membenarkan adanya kabar kemunculan sekte atau paham baru di wilyahnya tersebut.

Namun saat didatangi, tempat yang diduga jadi lokasi penyebaran sekte baru justru dipakai untuk pengobatan. “Berdasarkan keterangan warga sekitar, itu bukanlah sekte seperti yang beredar melainkan sejenis pengobatan,” beber Wawan.

Meski bukan semacam aliran keyakinan, sambung Wawan, pihaknya merasa kesulitan untuk memastikan kebenaran informasi yang diterima dari warga sekitar. “Sudah beberapa bulan ini tidak ada kegiatan lagi. Saya malah dapat informasi dari luar kalau di daerah saya ada aliran seperti itu, saat saya konfirmasi ke warga sekitar tidak ada. Kita juga kesulitan untuk memastikan kebenerannya, karna belum sempat bertemu dengan pihak terkait. Saat ini mereka sudah pindah tidak tahu kemana,” singkatnya.

Terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor KH Ahmad Mukri Aji mengatakan, ada enam agama yang diakui secara resmi oleh Indonesia. Jika ada kemunculan aliran sekte atau faham yang berasal di luar enam agama tersebut, tentu kita harus mewaspadaianya. Apalagi jika latar belakang aliran tersebut tidak jelas asalnya dari agama mana, tentu ini merupakan pekerjaan besar bersama bagi seluruh elemen pemerintahan.

Baca Juga  Walikota Bogor Apresiasi Penyaluran Zakat Baznas

Mukri Aji juga mengaku, akan menyelidiki kasus tersebut dengan seksama secara mendalam. Karna menurutnya, permasalahan agama ataupun keyakinan merupakan satu hal yang paling sensitif dan riskan. Terlebih saat ini Indonesia akan menggelar pesta demokrasi, baik itu pemilihan presiden maupun legeslatif.

“Agama yang diakui itu ada enam jika ada sekte atau aliran baru yang tidak jelas latar belakang agamanya tentu hal itu perlu diwaspadai. Kita akan cek lebih dalam lagi karna persoalan agama atau keyakinan itu hal yang sensitif, jangan sampai ada konflik apa lagi jelang pileg dan pilpres ini,” katanya saat dikonfirmasi Metropolitan, kemarin malam.

Ia menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa mewaspadai setiap gerakan, dari kelompok-kelompok tertentu yang mengajarkan doktrin atau ajaran yang bersifat keyakinan. “Agar tetap waspada terhadap doktrin dan isu yang dapat memecah belah persatuan. Jangan sampai kasusu ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Tapi tetap harus dalam koridor positif sesuai dengan ciri khas masyarakat Indonesia,” terangnya. (ogi/ads/d/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.