Sosok Cawapres Pendamping Jokowi di Mata PDIP Ma’ruf Amin Disebut Penjaga Pancasila

by -

METROPOLITAN – Sosok cawapres Ma’ruf Amin, mendapatkan pujian dari kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Di mana, sosoknya dinilai sebagai penjaga Pancasila sejati. Hal ini disampaikan Ketua DPP Baitul Musliman Indonesia (Bamusi) PDI Perjuangan, Zuhairi Misrawi saat konsolidasi partai di depan kader DPC PDIP, PAC.

Awal mulanya, dia menceritakan dalam musyawarah nasional alim ulama NU di Surabaya tahun 2006. Muncul pertanyaan dari para kiai. “Bagaimana pandangan kita terhadap Pancasila. Waktu itu, yang memimpin sidangnya Al mukarom Kiai Ma’ruf Amin. Ini harus tahu para kader PDI Perjuangan. Kiai Ma’ruf Amin ini penjaga Pancasila sejati,” ucap Zuhairi.

Dalam kesempatan itu, lanjut dia, dilakukan kajian panjang untuk mendengarkan masukan tentang ideologi Pancasila. Di sanalah kenapa Ma’ruf Amin dijuluki seperti itu. “Setelah kajian yang panjang, Kiai Ma’ruf Amin menyatakan, Pancasila kita tetapkan sebagai ideologi final Indonesia,” ungkap Zuhairi. Tak sampai di sana, ada peserta disebut final. Lalu dijawa Ma’ruf. “Pak Kiai mengatakan, setelah ini, seluruh jajaran NU dan ulama-ulama NU tidak ada lagi yang boleh mempertanyakan ideologi Pancasila,” jelas Zuhairi.

Baca Juga  Bangun Koalisi, Poros Gerindra-PDIP dekati PKB dan PKB

Karena itu, dengan pilihan partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu memilih sosok Ma’ruf Amin, jelas mematahkan isu kebohongan yang disematkan ke PDIP. “Kiai Ma’ruf Amin Rais Aam, ini imamnya para ulama. Beliau ini adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia adalah ulama yang paling tinggi di Indonesia. Jadi kita harus menolak jika ada yang mengatakan PDI Perjuangan anti-ulama. Bagaimana disebut anti-ulama, memilih wakil presidennya saja ulama. Itulah cinta PDI Perjuangan dengan para ulama,” kata Zuhairi.

Zuhairi Misrawi juga menyampaikan Bung Karno menjadikan Islam Kebangsaan sebagai kekuatan mempertahankan Islam di Indonesia. “Jangan khawatir, jangan mundur selangkah, karena yang kita perjuangkan adalah memperjuangkan surga, memperjuangkan Islam, yaitu tegaknya nilai-nilai Pancasila di Indonesia ini,” ucap Zuhairi di Hotel Sabty Garden, Asahan.

Baca Juga  Poster Bermahkota Raja Sudutkan Jokowi

Dia bercerita, pada 1935, diadakan Muktamar Nahdatul Ulama (NU) di Banjarmasin, 10 tahun sebelum Indonesia merdeka. Bung Karno hadir. Kepada para ulama, Bung Karno meminta agar ulama memikirkan seperti apa Indonesia kalau merdeka. “Hasilnya adalah para ulama mengatakan, 10 tahun sebelum merdeka, bahwa Indonesia nanti kalau merdeka, kita jadikan Indonesia sebagai Darussalam, sebagai surga. Bukan negara Islam,” kata Zuhairi yang juga caleg DPR-RI dapil DKI Jakarta 2 itu.

Menurutnya, negara yang damai adalah negara yang menghargai keberagaman. Sama dengan Pancasila yang menjadi pemersatu beragamnya warganya. “Jadi Pancasila adalah Darussalam, Pancasila adalah ‘surga’ bagi kebhinekaan, membangun persaudaraan,” ujar Zuhairi.

Mengetahui kisah itu pula yang membuat Zuhairi bergabung dengan PDIP sejak lulus dari Universitas Al Azhar, Mesir. “Saya ini kakak kelasnya Ustaz Abdul Somad. Saya aktivis Nadhatul Ulama. Saya cinta dengan partai ini, saya sayang dengan partai ini, karena partai ini menjaga Pancasila,” tegasnya lagi. (lip/els/run)

Baca Juga  DID Dorong Dewannya Perhatikan Pemberdayaan Perempuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *