Bawaslu Latih Santri Jadi Mata-mata

by -

METROPOLITAN – Jelang pemilu 2019, Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Bogor terus menggandeng berbagai pihak untuk ikut melakukan pengawasan partisipatif. Kali ini Bawaslu menggaet ratusan santri dari berbagai pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Bogor untuk ikut mengawasi atau menjadi mata-mata selama proses demokrasi berlangsung

Sosialisasi itu dilakukan di Puri Avia Megamendung, Kabupaten Bogor, kemarin. Sejumlah pemateri dhadirkan mulai dari Bawaslu Jawa Barat, Bawaslu Kabupaten Bogor hingga pemantau pemilu. Para santri pun dibekali pemahaman kaitan dengan pemilu 2019. “Materinya bagaimana peran santri dalam mengawasi pemilu. Kedua langkah yang bisa dilakukan santri dalam proses pencegahan dan pengawasan pelanggaran,” kata Komisioner Bawaslu Kabupaten Bogor Divisi Pengawasan dan Hubungan Antarlembaga Burhanudin kepada Metropolitan, kemarin.

Baca Juga  1.107.310 Polisi Amankan Pilkada

Selain itu, para santri dibekali jenisjenis pelanggaran dan bagaimana cara melaporkan temuan dugaan pelanggaran. Lelaki yang akrab disapa Burhan itu mengaku santri memiliki peran strategis dalam pengawasan pemilu. Terlebih di hajatan politik lima tahunan ini ponpes menjadi salah satu sasaran peserta pemilu maupun calon dalam merebut suara. Dengan pemahaman yang diberikan, Burhan berharap santri bisa berperan aktif, terlebih jika ada peserta pemilu ataupun calon yang datang ke ponpes.

“Ponpes memang jadi salah satunya. Dengan pemahamanan ini, ketika ada peserta pemilu atau calon yang datang ke pesantren, mereka bisa mengetahui ada atau nggak pelanggaran pemilu yang dilakukan. Kalau ada kan bisa langsung dilaporkan,” harapnya.

Baca Juga  Beri Dukungan Lewat Doa buat Ade Yasin, Sejumlah Ponpes di Bogor Gelar Istigasah

Untuk itu, Burhan mengajak para santri berperan aktif dalam proses pengawasan. Secara sosial, santri juga memiliki peran yang sangat strategis dalam masyarakat sehingga diharapkan bisa ikut menularkan pemahamannya soal politik. “Termasuk kaitan dengan kepesantrenan. Paling tidak, ketika mereka memahami politik yang benar, mereka tidak akan jadi korban politik. Malah bisa ikut menjadi pelopor pengawasan di pesantren maupun di masyarakat,” pungkas Burhan. (fin/b/els/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *