Sandi Ditolak di Kandang Banteng

by -

DENPASAR – Bawaslu memberikan perhatian serius kasus penolakan warga atas kehadiran cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno, di beberapa tempat di Bali, khususnya yang terjadi di Kabuapten Tabanan.

Bawaslu Bali berkoordinasi dengan Bawaslu Tabanan untuk membahas penolakan tersebut. Terlebih, penolakan tersebut disertai surat pernyataan yang fotonya sudah beredar. Khususnya, surat pernyataan di Desa Pekraman Pagi, Desa Senganan, Penebel.

Seperti dikatakan anggota Bawaslu Provinsi Bali, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi, pihaknya sedang menghimpun informasi terkait itu. “Kami sudah meminta hasil pengawasan Bawaslu Kabupaten Tabanan,” ujar Raka Sandi.

Raka Sandi menegaskan bahwa pihaknya belum mau mengambil kesimpulan. Pihaknya mesti menelusuri kebenarannya. Dan yang terpenting apakah memang penolakan itu murni karena aspirasi masyarakat setempat atau tim dari Sandiaga yang memang memindahkan lokasi acaranya.

Secara aturan, sambungnya, yang dilarang berkampanye adalah perangkat desa. Mulai dari kepala desa atau perbekel, jajarannya, sampai dengan kepala lingkungan.

Sedangkan untuk bendesa adat atau kelian adat, menurut dia sesuai ketentuan memang tidak ada. Namun yang dia garis bawahi, dalam tahapan kampanye yang wilayahnya nasional, setiap pasangan calon berkesempatan mendapatkan perlakuan yang sama.

“Mungkin masyarakat memiliki aspirasi lain. Tapi sekarang tinggal lihat hasil pengawasannya. Kami tidak mau beropini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sandiaga direncanakan datang ke Tabanan pada Sabtu (23/2). Lokasi yang dituju ada dua tempat. Di Desa Pekraman Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel. Serta di wilayah Banjar Katimemes, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan.

Namun, rencana kedatangannya itu ditolak masyarakat. Di Desa Pekraman Pagi bahkan penolakannya dibuat secara tertulis. Karena ada surat pernyataan penolakan yang ditandatangani langsung oleh Keliat Adat Banjar Pagi, Kelian Dinas Pagi, dan Bendesa Pekraman Pagi.

Di lain bagian, Badan Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo – Sandi Provinsi Bali tidak ambil pusing terhadap maraknya penolakan kehadiran calon wakil presiden (Cawapres) nomor urut 02, Sandiaga Uno. Justru tim sukses Prabowo – Sandi menilai penolakan tersebut sebagai bentuk ketakutan kubu lawan.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu dianggap bisa mengancam Bali sebagai “kandang banteng” atau basis pendukung paslon nomor urut 01, Jokowi – Amin.

“Hikmahnya (penolakan Sandiaga Uno) mereka ketakutan. Prabowo – Sandi ini luar biasa. Kalau biasa-biasa saja tidak mungkin dianggap mengancam, sehingga harus ditolak,” ujar koordinator juru bicara BPD Prabowo – Sandi Provinsi Bali, I Made Gede Ray Misno.

Padahal, lanjut Ray, kedatangan Sandiaga ke Bali dalam rangka kunjungan resmi menyapa masyarakat. Tim sukses sudah melengkapai semua surat dan persyaratan untuk menyelenggarakan acara. Bahkan, perizinan dari pihak berwajib juga sudah dikantongi.

Namun, sebagian masyarakat yang mengaku spontanitas menolak Sandiaga. Ray menyatakan tidak akan memperpanjang masalah tersebut.

“Saya melihat penolakan itu sebagai bentuk berkurangnya mulat sarira. Kita sering mengecam orang yang bertindak radikal yang melakukan sweeping, tapi kita juga melakukan hal tak jauh berbeda. Semoga ke depan tak terulang,” tandas Ray, mantan Ketua KPUD Kota Denpasar, itu.

Ditambahkan, awalnya pada 24 Februari pagi setelah Sandiaga berolahraga hendak ke Tabanan. Tapi karena ada penolakan diubah ke Tanjung Benoa dan seputaran Kota Denpasar.

Sandiaga Salahuddin Uno sendiri enggan menanggapi lebih jauh penolakan yang terjadi di beberapa daerah terkait kampanyenya di Bali. Dia mengaku tidak ingin kehadirannya justru membuat suasana tidak nyaman.

Sumber : jpnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *