50 ODGJ Berobat Gratis

by -

METROPOLITAN – RUMPIN – Sebanyak 50 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) mendapatkan pengobatan secara gratis. Pemberian pengobatan dan pendampingan terhadap ODGJ di wilayah Kecamatan Rumpin ini bertujuan untuk proses penyembuhan sehingga diharapkan bisa hidup mandiri di tengah masyarakat. Kegiatan ini diprakarsai jajaran petugas kesehatan Puskesmas Cicangkal dan berlangsung di kantor Desa Tamansari, Kecamatan Rumpin. Ternyata, cukup banyak warga yang terserang penyakit gangguan jiwa dan mereka mendatangi giat pengobatan gratis tersebut diantar keluarganya. Pengobatan gratis ODGJ ini melibatkan para petugas kesehatan dari Puskesmas Cicangkal, dengan dokter pendamping khusus yaitu dokter spesialis kejiawaan Abror Miftahuddin dari RSUD Ciawi.

“Kegiatan sosial ini juga melibatkan semua kader ODGJ dari Dinas Sosial Kabupaten Bogor serta dibantu masyarakat di wilayah Kecamatan Rumpin,” terang Kepala Puskesmas Cicangkal dokter Tati Yuniarti, kemarin.

Tati mengatakan, ODGJ yang berobat tersebut berasal dari lima desa yaitu Kertajaya, Tamansari, Sukamulya, Mekarsari dan Sukasari. Dengan jumlah ODGJ seluruhnya ada 50 orang, dari usia yang paling muda 8 tahun dan paling tua 55 tahun. “Kegiatan ini bertujuan agar warga Kecamatan Rumpin yang terkena gangguan jiwa bisa hidup mandiri, bisa berbaur dengan masyarakat dan bisa melaksanakan kegiatan sehari-hari tanpa dikucilkan dari warga atau masyarakat lainnya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, masyarakat wilayah Kecamatan Rumpin sangat jauh dengan Rumah Sakit (RS), sehingga jika dirujuk ke RS terkendala dengan transportasi. Oleh karena itu, Puskesmas Cicangkal melakukan pendampingan spesialis untuk para penyandang penyakit jiwa tersebut. Seluruh pasien langsung diperiksa dan diberikan terapi serta pengarahan. “Ketika dilakukan pemeriksaan terhadap pasien, kita juga menghadirkan pihak keluarganya untuk mendampingi,” tuturnya.

Sementara itu, dokter Abror mengatakan, kegiatan ini merupakan pendampingan terhadap orang yang terkena gangguan jiwa dengan melibatkan aparatur pemerintah desa dan Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) untuk warga yang terkena gangguan jiwa berat. Menurutnya, selama ini warga penderita ODGJ harus ke RS Marzoeki Mahdi untuk mendapatkan pelayanan kusus penyakit ODGJ tersebut. “Dari segi perjalanan luar biasa cukup jauh dan tentu memakan biaya cukup banyak,” jelasnya.

Dokter Abror berharap pihak keluarga bisa berperan aktif dalam menangani dan menjalani proses penyembuhan penyakit orang gangguan jiwa tersebut. Menurutnya, gangguan jiwa itu bukan sakit fisik dan mempunyai macam jenisnya, mulai dari ringan sedang hingga berat. Dengan disampaikan masalah tentang gangguan jiwa, diharapkan kedepannya masyarakat tidak membiarkan keluarganya penderita ODGJ. “Karena penyakit gangguan jiwa itu secara pengobatan teori medisnya ada dan bisa disembuhkan,” pungkasnya. (sir/b/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *