Harusnya Direhab Bukan Ditangkap

by -

METROPOLITAN – Kasus penang­kapan yang melibatkan ketua, ben­dahara, hingga salah satu anggota Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Bogor, pada Kamis (28/02) seki­tar pukul 00:30 WIB, di Gedung Kemuninggading Kota Bogor, atas dugaan keterlibatan jejaring narkoba oleh Satuan Narkoba Polres Kabupa­ten Bogor, rupanya meninggalkan tanda tanya besar di benak keluarga besar dan simpatisan KPJ.

Dugaan dipersulitnya proses hukum yang diajukan kuasa hukum KPJ, hingga penetapan pasal yang diberi­kan kepolisian kepada tiga tersangka adalah dua poin besar yang diperma­salahkan KPJ Kota Hujan.

Kuasa Hukum KPJ Eri Rossatria men­gatakan, secara umum pihaknya me­nemukan dua kejanggalan dalam kasus yang menimpa ketiga kliennya.

“Pertama, kami seperti dipersulit untuk menemui mereka di Polres Bo­gor, kedua penggunaan pasal yang tidak semestinya,” kata wanita yang karib disapa Eri tersebut.

Ia menjelaskan, pertama ada­nya upaya seperti menghalang-halangi yang dilakukan Polres Bogor, saat pihaknya hendak menemui para klien untuk melakukan pendampingan hukum. “Tiga kali kami men­datangi Polres Bogor, untuk mencoba menemui mereka, tapi sampai saat ini belum bisa bertemu,” ucapnya.

Kedua, penerapan pasal yang menurutnya keliru kepada ke­tiganya. Dirinya bercerita, saat melakukan penangkapan, apa­rat hanya menemukan sekitar 12 gram ganja.

“Jika mengacu kepada Undang-Undang Pasal 114 Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika, jika seorang ditetapkan sebagai pengedar atau bandar, diper­tegas dengan temuan ganja minimal 1 kilogram atau se­tara dengan 5 batang pohon. Ini kan barang buktinya hanya sekitar 12 gram, seharusnya mereka masuk dalam kategori pemakai bukan pengedar dong,” terangnya.

Lantaran barang bukti yang ditemukan tidak seperti yang dikatakan pada Pasal 114 Nomor 35 Tahun 2009, seharusnya ketiga klien tersebut diganjar dengan Pasal 127 yang men­gharuskan ketiganya menja­lani proses rehabilitasii. “Se­harusnya mereka itu direhab bukan ditingkap dengan di­kenakan Pasal 127, bukan 114,” tegasnya.

Sementara itu, Komite Musik Dewan Kesenian dan Kebu­dayaan Kota Bogor, Rizky sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan Satuan Nar­koba Polres Bogor.

“Meski kami hidup dijalanan, tentu kalau urusan hukum ha­rus disamaratakan. Kami juga warga Indonesia, seharusnya tidak bisa diperlakukan se­enaknya seperti ini,” tutupnya.

Terpisah, Kasat Narkoba Pol­res Bogor, AKP Andri Alam, ketika dikonfirmasi tidak mem­balas pesan singkat maupun telepon yang dilayangkan.(ogi/b/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *