Jaringan Narkoba Di Lingkaran Oknum Aparat

by -

METROPOLITAN –  Dua oknum anggota TNI ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, karena kedapatan membawa sabu. Keduanya ditangkap tim gabungan Pomdam Jaya, Polri dan Bea Cukai. Penangkapan itu kembali menambah panjang daftar aparat yang masuk jaringan narkoba.

KAPENDAM Jaya Kolonel (Inf) Kristomei Sianturi mengatakan, penangkapan itu dilakukan pada Sabtu (2/1) sekitar pukul 16:00 WIB. Dua anggota TNI itu atas nama Serka HJS dan Serka H. ”Yang bersangkutan mem­bawa sabu seberat bruto 48,97 gram,” kata Kristomei.

Dari hasil pengembangan dan pemeriksaan juga diadakan penangkapan terhadap saudara A di Bogor sebagai pemesan dan telah diamankan dua paket sabu seberat 0,70 gram. “Untuk oknum ini berasal dari kesatuan Deta­semen Mabes TNI Angkatan Darat (Denma Mabes AD),” tuturnya.

Tim gabungan itu saat ini di­sebut Kristomei masih terus melakukan pengembangan. ”Saat ini keseluruhan masih dalam pemeriksaan dan pendalaman Pomdam Jaya dan kepolisian,” ujar Kristomei.

Kasus keterlibatan oknum TNI dalam bisnis narkoba memang bukan pertama kali. Badan Nar­kotika Nasional (BNN) bersama TNI juga mengungkap pereda­ran narkotika jenis ekstasi di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Enam tersangka ditangkap, satu di antaranya merupakan oknum TNI. Deputi Bidang Pemberan­tasan BNN Irjen Arman Depari mengatakan, penangkapan itu dilakukan atas informasi adanya pengiriman ekstasi dari Medan ke Lubuklinggau. Tim kemudian melakukan penyelidikan ke Jalan Lintas Sumatera.

”Di Jalan Lintas Sumatera, Lu­buklinggau, Sumsel, tim mela­kukan penangkapan terhadap tiga tersangka dan mengaman­kan empat kantong narkoba jenis ekstasi,” kata Arman.

Arman menuturkan, tim ke­mudian melakukan peng­embangan ke daerah Sumatera Utara. BNN kembali menangkap tersangka lain atas nama Dedi Darmawan di Sumatera Utara. Dedi mengaku diperintah oknum TNI bernama Serda SM.

”Tim BNN berkoordinasi dengan Dandim 0204 Deli Serdang, Sub­denpom I/1-3 Lubuk Pakam, Subdenpom I/1-1 Tebing Ting­gi dan unit intel berhasil menga­mankan Serda SM,” sebut Arman.

Tak cuma institusi TNI. Di in­stitusi Polri, Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga pernah me­rilis data soal adanya kenaikan jumlah personel yang terlibat jaringan narkoba sebesar 2,8 persen. Tito mengatakan, jumlah anggotanya yang mengonsum­si narkoba meningkat pada 2018. Dalam catatan Polri, terdapat 244 anggotanya yang diproses pidana dan 297 ketahuan men­gonsumsi.

”Pelanggaran disiplin dan pi­dana terkait narkoba mengalami peningkatan. Pelanggaran disiplin berupa konsumsi narkoba me­ningkat 2,8 persen. Sedangkan pelanggaran pidana narkoba meningkat 221 persen dibanding 2017,” kata Tito.

Pada 2017, jumlah anggota yang mengonsumsi narkoba seba­nyak 289 orang. Sedangkan yang dijerat pidana ada 76 orang. ”Meningkatnya angka tersebut didorong upaya proaktif dan ketegasan pimpinan Polri untuk menindak semua bentuk pelang­garan terkait narkoba, termasuk yang dilakukan personel Polri,” ujar Tito.

Kepala Seksi Berantas BNNK Bogor Supeno mengklaim se­menjak bertugas pada 2016 hingga kini, dirinya belum menda­patkan informasi anggota kesa­tuan yang kedapatan terkait kasus tersebut.

“Sampai sekarang saya di sini belum ada kasus seperti itu. Saya kebetulan dari 2016 aktif di BNNK Bogor. Sementara untuk kasus dua orang yang tertangkap, kami belum mendapatkan informa­sinya. Ya baru dengar di ban­dara ada yang kena. Tapi saya nggak tahu kalau pemesan yang berinisial A dari Bogor,” akunya kepada Metropolitan.

Terkait kasus tersebut, ia mem­benarkan saat ini barang haram tersebut dianggap hal paling menguntungkan. Karena dengan bawaannya yang sedikit bisa mendapatkan untung yang ba­nyak. “Orang Indonesia keba­nyakannya penikmat. Jadi benar kalau di Indonesia menjadi pe­masaran utama dari wilayah Asia Tenggara,” ujarnya.

Sementara untuk menyikapi hal itu, ia mengimbau perlunya kolaborasi yang baik. “Saat ini BNNK Bogor sudah membuat Satgas Khusus (Satgasus), ter­masuk kerja sama dengan tiga pilar utama, yakni BNN, Polri dan TNI,” bebernya.

Hal itu, jelas Supeno, bertu­juan mencegah peredaran gelap narkotika dan menjadi prioritas. “Sementara untuk informasi pemesan narkoba ber-inisial A yang berasal dari Bogor, kami akan selidiki kembali,” tandasnya. (yos/c/de/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *