Penjahat Ibu Kota Bergeser ke Bogor

by -

METROPOLITAN – Lagi-lagi Bogor jadi tujuan para penjahat melakukan aksinya. Setelah salah satu calon anggota legislatif (caleg) terungkap menjadi dalang perampokan dengan modus gembos ban, diprediksi ada beberapa motif kejahatan lainnya yang mengintai warga Bogor, yang dilakukan para penjahat dari luar kota.

Tingginya pengawasan dari kepolisian di Jakarta membuat para pelaku kriminal memilih beraksi di daerah pinggiran. Hal itu diungkapkan langsung kriminolog FISIP UI, Iqrak Sulhin. Ia menyebutkan tipologi kejahatan di Jakarta dengan daerah sekitarnya relatif sama. Hanya saja ada logika balon dalam pengendalian kejahatan. Ketika pelaku kesulitan beraksi di daerah A, maka mereka akan beralih ke daerah B.

”Kadang memang ada logika balon. Ditekan di sisi satu, menonjol di sisi satunya lagi,” kata Iqrak Sulhin, Kamis (28/3).

Meskipun terdapat fluktuasi kejahatan yang lebih tinggi di pinggir Jakarta, itu lebih dipicu dari kesempatan saja. Kondisi sedikit berbeda terjadi di wilayah Bogor. Kualitas penanganan kejahatan tidak secepat Jakarta. Baik kota maupun kabupaten. ”Dua daerah itu relatif jauh dari Jakarta,” imbuhnya.

Iqrak tidak bisa menyimpulkan aman atau tidak. Sebab, angka kejahatan jalanan umumnya berbentuk property related. Cenderung fluktuatif dengan tidak ekstrem. Karakter kejahatan di perkotaan itu umumnya didominasi kekerasan dan property related crime. ”Artinya saya melihat tidak ada perubahan ekstrem,” katanya.

Baca Juga  Kerumunan Megamendung, Sekda Bogor Penuhi Panggilan Polisi Hari Ini

Begitu juga di Bogor. Tidak adanya perubahan yang ekstrem kriminalitas di wilayah Bogor, Jakarta dan Detabek. Sebab, tipologi kejahatan di kota sebagian besar bermotif ekonomi. Karena itu tidak bisa dipungkiri kebijakan pengendalian dan pencegahan kejahatan di Bogor akan sangat berkaitan dengan kebijakan publik. Baik dalam menghilangkan motif maupun dalam mengurangi kesempatan. ”Kerja sama kepolisian dengan pemerintah daerah (Pemkab Bogor, red) tentu sangat diperlukan,” katanya.

Sebelumnya, setiap tahunnya lebih dari seribu kasus kriminal terjadi di Kota Bogor. Sedangkan kasus yang terungkap tak lebih dari setengahnya. Bahkan kasus yang gagal diusut pun jumlahnya cukup fantastis. Mencapai angka 774 kasus.

Belum maksimal. Mungkin itulah ungkapan yang dirasa tepat untuk menggambarkan kinerja Polresta Bogor Kota dalam menjalankan tugasnya. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Metropolitan, secara keseluruhan jumlah tindak pidana di wilayah Polresta Bogor terhitung sejak 2017 silam mencapai 1.101 kasus. Dari angka tersebut, polresta hanya mampu menyelesaikan 501 perkara. Tak berhenti sampai di situ, di tahun berikutnya tepat pada 2018 lalu, sebanyak 1.327 kasus hinggap di Makopolresta Kota Bogor. Namun sayang, pihak kepolisian hanya mampu mengatasi 553 perkara. Artinya, masih ada 774 kasus yang belum diungkap alias gagal.

Baca Juga  Kelamaan di Rumah, Dinar Candy Ngebet Nikah

Data dari Reserse Kriminal (Reskrim) Polresta Bogor Kota menyebutkan, secara garis besar rekapitulasi peristiwa yang terjadi di wilayah hukum Resta Bogor pada 2018 lalu berjumlah 1.327 kasus, dengan beragam modus dan tindak kejahatan.

Sementara data dari Reskrim Polresta Bogor Kota justru menunjukkan kinerja yang kurang memuaskan. Dari 622 kasus yang masuk dapur reskrim pada 2018, hanya 229 perkara yang berhasil diselesaikan atau setara dengan 36,82 persen dari jumlah total kasus yang ada. Angka tersebut merupakan pencapaian terendah jika dibandingkan persentase angka tindak kriminal yang di enam kecamatan.

Menanggapi hal tersebut, Kasat Reskrim Polresta Bogor Kompol Agah Sanjaya mengatakan, secara garis besar laporan yang masuk seluruhnya langsung ditangani, meski setiap kasus yang masuk tidak sampai tuntas. Kendala berbeda kerap mewarnai proses penyelesaian kasus. “Secara umum semua kasus atau laporan yang masuk kita tangani, cuma yang selesai baru segitu,” ujarnya saat dikonfirmasi Metropolitan, kemarin.

Menurutnya, setiap kasus yang ditangani memiliki tingkat kesulitan dan kendala yang berbeda. Satu kasus yang ditangani pihaknya hampir puluhan kendala yang terdapat dalam proses penyelesaiannya. “Setiap perkara banyak sekali kendalanya. Kalau saya mengumpamakan seperti 1.001 kendala di setiap kasus,” ungkapnya.

Baca Juga  Demokrat Kecolongan Daftarkan Caleg Koruptor

Banyaknya laporan yang masuk tanpa ada kejelasan penyelesaian juga digadang menjadi penyebab tingginya angka kriminal yang masuk. Agah menilai 229 perkara yang berhasil diselesaikan atau setara dengan 36,82 dinilainya merupakan capaian yang patut diapresiasi, mengingat dengan segala keterbatasan yang ada. “Segala bentuk kriminal atau kehilangan itu kan lapornya ke pihak kepolisian. Dan setiap laporan itu menjadi angka. Kalau angka segitu mah sudah luar biasa. Anggota kami terbatas,” kilahnya.

Agah menambahkan, jika dirinci sedemikian rupa, satu penyidik dapat menangani 80 kasus. Hal tersebut tentu dinilai menjadi kedala tersendri bagi pihaknya dalam menyelesaikan setiap kasus yang masuk. “Kalau di-breakdown, satu orang penyidik bisa menangani 80 perkara. Bayangkan saja. Sedangkan kita hanya punya 26 penyidik,” paparnya. Begitu juga di Polres Bogor, sepanjang 2017 ini wilayah hukum Polres Kabupaten Bogor menempati peringkat pertama dengan jumlah kasus 3,338. Angka tersebut meliputi ragam tindak pidana. Posisi kedua ditempati Polrestabes Bandung dengan jumlah 3.110 kasus. Juara ketiga Polres Sukabumi Kota sebanyak 1.658 kasus. (jp/dtk/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *