Tenggorokan masih Bolong, Sopir Ojek Dicokok Polisi

by -

METROPOLITAN – Belakangan ini masyarakat Kabupaten Bogor dibuat geger dengan adanya dua peristiwa penusukan di waktu yang hampir bersamaan, tengah pekan lalu. Menariknya, peristiwa yang terjadi di Kecamatan Cisarua dan Cibinong itu dilatarbelakangi hal sama, yakni alasan asmara. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam dua kejadian tersebut.

Namun kedua pelaku harus berurusan dengan pihak kepolisian hingga dirawat di rumah sakit. Peristiwa yang terjadi di Puncak, Cisarua, itu melibatkan HD (54) dengan ND (48). HD menusuk ND di bagian perut dan menyayat lehernya karena cekcok soal uang.

Gelap mata serta diselingi rasa bersalah, HD kemudian menusukkan pisau ke leher sendiri. Keduanya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Paru dr M Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua untuk mendapat perawatan. Kepala Humas RSPG Cisarua Iwan Ridwanullah mengatakan, keduanya mendapat perawatan intensif di RSPG Cisarua sejak peristiwa terjadi, Selasa (5/3). Nyatanya kondisi HD lebih parah dibanding ND yang jadi korban.

Baca Juga  Pemuda Indonesia Tolak Kongres KNPI

Pria 54 tahun itu menusuk lehernya sendiri sampai 15 sentimeter hingga menembus tenggorokannya. Sehingga masih mendapat perawatan hingga kini. ”Kedalamannya kurang lebih 10 sampai 15 sentimeter. Dia dirawat tiga malam lah. Sedangkan yang perempuan hari itu juga minta pulang atas permintaan sendiri, setelah dapat perawatan,” katanya kepada Metropolitan, kemarin. Sehingga ia pun mesti mendapat jahitan di bagian luar sebanyak 18 jahitan. Sedangkan untuk bagian dalam, jelas Iwan, jahitannya bisa lebih banyak.

”Yang tahu jelas dokter bedahnya. Tapi yang pasti di bagian dalamnya banyak juga. Cuma nggak dihitung,” ucapnya. Iwan menambahkan, yang dirawat hanya HD selama tiga malam. Di mana dokter yang menanganinya sudah membolehkannya pulang. Sedangkan ND langsung minta pulang setelah mendapat perawatan saat hari kejadian.

Baca Juga  Gempa Kawal Surat Keputusan Camat

”Yang dirawat yang laki-laki. Sudah boleh pulang hari ini (kemarin, red). Kalau masalah langsung dibawa sama polisi atau tidak, kami sih kurang tahu ya,” paparnya. Menanggapi hal itu, Psikolog Forensik Kasandra Putranto mengaku belum bisa berkomentar banyak sebelum melakukan pemeriksaan forensik terhadap pelaku dan korban. Namun secara umum, dalam kasus kekerasan atau penganiayaan yang bisa sampai menyebabkan kematian, umumnya mengandung profil psikologis yang khas pada pelaku dan korban.

”Profil psikologis sebagai faktor penyebab, didukung faktor pemicu seperti faktor ekonomi, asmara, dendam dan lainnya. Termasuk profesi,” tuturnya. Sebelumnya, dua peristiwa penusukan di Cisarua dan Cibinong itu mendapat reaksi keras dari Bupati Bogor Ade Yasin. Ia mengaku mengetahuinya dari media massa.

Baca Juga  Kisah Korban Salah Tangkap yang Disiksa oleh oknum kepolisian

Orang nomor satu di Kabupaten Bogor itu menyayangkan peristiwa tersebut bisa terjadi. Menurutnya, persoalan pendidikan agama dan pengawasan keluarga menjadi kunci dalam mengurangi efek asmara mudamudi yang tak jarang berbuntut tindakan kriminal. Apalagi pihaknya ingin menciptakan Bogor Berkeadaban, sesuai program Panca Karsa yang tengah digaungkan.

“Butuh pendidikan karakter, tingkatkan kajian pendidikan agama. Makanya kunci penting ada di keluarga. Didiklah anak dengan baik, awasi juga pergaulannya. Pendidikan karakter itu yang kami akan masukkan di berbagai elemen masyarakat,” tegas AY.

(ryn/c/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *