Aku Sangat Mencintai Suamimu (3)

by -

MERTOPOLITAN – Kami ketahuan ketika aku dan dia tengah bermalam di kostku.

Malam itu Istrinya langsung menelpon saya, saya mengangkat menerima panggilan itu, aku gugup menjawab panggilan tersebut. Kendati demikian, aku tetap bertekad memberanikan diri berjumpa dengan istrinya pacarku itu.

Tidak menunggu lama, istri Topik pun akhirnya tiba kostku, dalam pertemuan itu aku menyatakan pada istrinya kalau sebelumnya aku sudah mengetahui kalau Topik itu, sudah mempunyai istri.

Malam dengan terus terang kukatakan kalau sangat mencintai suaminya. Aku bilang, aku gak bisa hidup tanpa suaminya. Mendengar ucapanku istrinya lalu berkata kepada saya

”Oke kalau kamu memang mencintai suami saya, saya akan men – ceraikan dan meminta gugat cerai kepada suami saya itu.” ucapnya tampaku terlihat sedih. Namun ketika pertemuan itu, saat itu Topik sudah tidak ada bersama kami lagi, dia lari kabur entah pergi kemana mungkin lari dari jendela.

Melihat suaminya tidak berada di kamarku lagi, istrinya itu lalu pergi sembari menghempaskan pintu kamar kamarku. Setelah kejadian yang memalukan itu, aku terdiam, aku seperti merasakan ketakutan yang begitu berlebihan.

Kendati kejadiannya sudah begitu, rasa cinta dan sayangku kepada Topik, tidak berkurang sedikit pun. Aku tahu kejadian itu sangat menyakitkan hatiku.

Setelah hatiku sedikit tenang kugapai Hp dan mencoba menghubungi kekasihku itu, namun nomor hpnya sudah tidak aktif lagi. Atas kejadian itu, aku takut bila Topik tidak akan kembali lagi padaku. aku akan sedih kalau itu memang benar-benar terrjadi.

Aku tidak dapat membayangkan bila Topik tidak ada disamping lagi. Mengingat akan terjadi demikian, tiba-tiba aku menagis, aku terus mengingat semua kenangan- kenangan yang pernah telah kami lalui berdua. Jujur hati ini sulit untuk melupakannya.

Lama Topik tidak ada kabar, akupun menjadi seperti orang stress, aku tak kuat bahkan aku pernah untuk mencoba bunuh diri tujuannya agar aku tidak lagi merasakan rindu berat tidak tertahankan. Semakin hari, semakin memaksa aku harus mencari dan bertemu dengan Topik.

Pikirku mengapa aku seperti demikian. Naluriku juga berkata kalau semua ini diluar logikaku. Pikirku mengapa aku begitu mencintainya bahkan aku rela untuk mati deminya.

Rasa itu sungguh luar biasa. Bahkan sampai saat ini pun aku belum dapat melupakannya. (cer) (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *