Ungkap 130 Kasus, Baru Satu Dimusnahkan

by -

METROPOLITAN – Di balik pemusnahan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu yang dilakukan Satuan Narkoba (Satnarkoba) Kepolisian Resor (Polres) Bogor menyisakan PR tersendiri. Sebab lebih dari 130-an kasus narkoba yang diungkap sejak awal tahun, baru kali ini polisi melakukan pemusnahan barang bukti. Padahal barang bukti yang sudah disita pun cukup banyak. Seperti diungkap Kasat Narkoba Polres Bogor AKP Andri Alam.

Maret lalu saja ada 17 tersangka kasus narkoba dicokok hanya dalam waktu dua pekan, dengan barang bukti 392 gram sabu-sabu, 2,3 kilogram ganja kering dan ribuan pil psikotropika berbagai jenis.

Pihaknya mencatat sepanjang 2018 ada 266 kasus narkoba berbagai jenis terjadi di Bumi Tegar Beriman. Kini baru menginjak bulan ketiga saja, kasus narkoba sudah mencapai angka 130-an kasus. “Tiga bulan saja sudah setengahnya dari kasus tahun lalu. Artinya di sisa waktu ke depan, rasionya berpotensi terus bertambah,” kata Andri.

Sementara itu, barang bukti sebanyak 1,55 kilogram narkoba jenis sabu-sabu hasil sitaan dari kasus pengungkapan pabrik sabu oplosan di rumah pohon yang berlokasi di Kecamatan Cijeruk akhir Januari lalu, dimusnahkan di Mapolres Bogor, kemarin. Pemusnahan itu juga disaksikan petugas Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Bogor dengan menghadirkan tersangka Y dan kuasa hukumnya.

Kepala Urusan Pembinaan Operasi Narkoba Polres Bogor Iptu Yogi menjelaskan, pemusnahan barang bukti sebanyak 1,5 kilogram sabu itu dilakukan dengan cara dilarutkan dalam air mendidih lalu dibuang ke saluran air. Saat ini kasus yang diungkap Satnarkoba di Cijeruk akhir Januari lalu itu masih dalam penyidikan. Sehingga barang bukti disisakan terlebih dahulu sebanyak 2,5 gram untuk kelanjutan penyidikan kasus.

“Ini pengungkapan hasil sitaan barang haram sabu oplosan beberapa waktu lalu. Sampai saat ini masih penyidikan dan belum ada putusan inkrah. Makanya disisihkan 2,5 gram untuk keperluan sidang. Ini pemusnahan pertama sejak awal tahun, dari semua kasus yang diungkap,” katanya.

Ia menceritakan, modus dari kasus ini yakni industri rumahan dengan bahan baku sabu murni yang diracik sedemikian rupa. Sehingga kuantitasnya bertambah namun kualitasnya berkurang. Bila sabu murni bisa dibanderol Rp1,2 juta, sabu oplosan ini hanya dihargai Rp800 ribu. Sehingga tak aneh jika peminatnya pun banyak.

Sementara itu, Kepala Subseksi Pratuntutan pada Kejari Kabupaten Bogor Rudi Iskonjaya menuturkan, kasus pengungkapan sabu oplosan ini memang belum P21 alias masih penyidikan. Sesuai Pasal 91, wajib memusnahkan barang bukti yang jumlahnya termasuk banyak. “Kita sisihkan 2,5 gram untuk penyelidikan dan pembuktian lebih lanjut. Ini berdasarkan status penetapan kita, status pemusnahan dari kita. Segera penyidik harus memusnahkan dengan jaksa harus hadir,” katanya. (ryn/c/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *