Misi Propetik Saum

by -
DR. H. ADE SARMILI, M. SI

METROPOLITAN – Suatu hari ketika Rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya, dari jauh terlihat seorang yahudi memikul seikat kayu bakar. Rasulullah SAW meminta salah seorang sahabat untuk menghentikannya. Setelah berhenti, Rasulullah menyuruh membuka ikatan kayu bakarnya. Ternyata didalam tumpukan kayu bakar itu terdapat seekor ular ganas yang diperkirakan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan mematuk orang yahudi tersebut hinga tewas. Kepada orang yahudi tadi, Rasulullah SAW bertanya ”Amalan apa yang kamu kerjakan hari ini?”

”Ada apa gerangan?” yahudi itu balik bertanya. ”Sepengetahuanku hari ini kamu akan mati karena dipatuk ular. Tapi ternyata kamu selamat” ”Aku tidak melakukan amalan apa-apa hari ini. Pagi-pagi aku berangkat mencari kayu bakar. Ketika berangkat, aku punya sepotong roti. Sebagian aku makan dan sebagian lagi aku berikan pada orang miskin”. Jawab orang yahudi. ”Ya, amalan itulah yang menyebabkan kamu selamat dari patukan ular tadi”, Sabda Nabi. Penggalan kisah ini, apabila kita perhatikan dengan seksama, membimbing kita pada pemahaman bahwa di satu sisi, sedekah akan menolak bala.

Tapi di sisi lain bahwa betapa ketika beramal dengan dilandasi cinta dapat membuahkan hasil yang luar biasa. Seperti pada orang yahudi tadi, bekerja dengan cinta, yang diwujudkan dengan memberikan hanya sepotong roti, telah menyebabkan selamatnya dari patukan ular. Betapa indah dunia ini bila kita bekerja dengan energi cinta.

Saum Ramadan yang kita kerjakan pada bulan ini, tidak sekadar ritual yang kita kerjakan setelah itu selesai. Tetapi justru Ramadan adalah langkah awal untuk menunjukan manusia yang sebenarnya. Betapa ketika orang yang beriman melaksanakan saum, tidak pernah terbayangkan dalam dirinya akan mendapatkan pahala sekian besar dan balasan dari Allah SWT. Tetapi semata-mata kita mengerjakannya hanya untuk mendapatkan Ridlonya Allah SWT. Terlalu kecil kalau hanya denga saum Allah memberikan surganya untuk kita dan terlalu naif kalau hanya dengan salat kita mengaharapkan surganya Allah SWT. Tetapi kita mengaharpakan dari semua yang kita kerjakan adalah ” cinta ”nya Allah kepada kita.

Allah SWT. mewajibkan saum Ramadan, juga karena rasa cintanya kepada hambanya. Didalam Alquran surat AlBaqoroh 183 Allah SWT mengawali panggilan pengerjaan saum dengan kalimat ” Yaa Nida ” ( …wahai sekalian orang yang beriman…). Dengan kalimat ini menunjukan betapa Allah SWT sangat sayang dan cintanya kepada hamba-hambanya.

Cinta sering pula diartikan dengan mahabbah, yaitu karunia Allah yang tidak bisa dihilangkan keberadaannya, karena setiap manusia diberi rasa cinta oleh Allah SWT. Untk memotivasi dirinya agar taat dan patuh terhadap perintahNYA. Karenanya, rasa cinta tidak bisa hidup berdiri sendiri tanpa adanya penyaluran yang harmonis, dalam arti kata tumbuhnya cinta harus ada objek yang dicintai.

Para ahli psikologi telah membuat definisi cinta dengan berbagai coraknya, namun ternyata mereka kesulitan menemukan hakeket cinta yang sebenarnya, karena cinta berkisar dan berada di dalamnya. Bila rasa cinta itu berjalan harmonis, maka ada sesuatu yang menyertai kemana pun dia pergi, yaitu pengorbanan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *