Bisa Naik Kuda, Bisa Naik MRT…

by -
AKRAB: Kemesraan Jokowi dan Prabowo ini bakal terlihat setelah putusan MK.

Capres incumbent Joko Widodo (Jokowi) kembali berbicara tentang rekonsiliasi dengan capres Prabowo Subianto. Meski bersifat terbuka, pertemuan keduanya baru bisa terlaksana usai putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

METROPOLITAN   – Menurut  Jokowi, rekonsiliasi dapat dilakukan di mana saja. ”Ya di mana pun bisa, bisa dengan naik kuda, bisa. Bisa di Jogja bisa, bisa naik MRT bisa,” kata Jokowi. Ia sendiri telah beberapa kali mengungkapkan keinginannya segera bertemu Ketua Umum Partai Gerindra itu usai pilpres 2019, tetapi hingga kini belum terealisasi. ”Kita ini ya, yang paling penting kita bersama-sama bekerja sama untuk memajukan negara ini membangun negara ini,” ujarnya.

Mantan gubernur DKI Jakarta itu sempat mengutus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan untuk membuka komunikasi usai pencoblosan pilpres 2019. Meski Luhut dan Prabowo telah menentukan jadwal, namun akhirnya pertemuan tersebut batal. Saat itu, Prabowo mengaku sedang sakit.

Setelah pengumuman pemenang pilpres, Wapres Jusuf Kalla pun bertemu Prabowo di rumah dinasnya. Pertemuan tersebut merupakan inisiasi Jokowi dengan JK. JK menyatakan tidak menutup kemungkinan pertemuan Jokowi dengan Prabowo terjadi setelah Lebaran. Pertemuan itu saat ini sedang diatur. ”Pasti mungkin. Nanti lagi diusahakan. Karena kemarin kan beliau ke luar negeri,” kata JK. Ia menjelaskan, pertemuan itu sedang dicari waktu yang tepat. Sedangkan Prabowo sendiri menyatakan akan menjalani proses konstitusional di Mahkamah Konstitusi (MK). ”Prabowo tentu ingin menjalankan proses konstitusional,” ujar JK.

Terpisah, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti kedua tokoh itu perlu bersilaturahmi dan bukan rekonsiliasi. Alasan pertama, keduanya memang bersaing dan berkompetisi. Keduanya juga datang dengan parpol yang berbeda, serta menarik dukungan dari pemilih yang berbeda. ”Maka mendorong mereka untuk rekonsiliasi politik adalah seperti upaya yang kabur. Sebab sejak awal memang keduanya adalah identitas yang berbeda dan dengan perbedaan itulah mereka berkompetisi dalam pemilu,” pungkasnya. (tem/mdk/els/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *