Butuh Pohon Tua, Cukup Rp1 Juta

by -
PERSIAPAN: Salah seorang pegiat kuluwung saat mengisi karbit sebagai bahan peledak meriam kayu raksasa.

Festival kuluwung yang berlangsung di Kampung Cikeruh, RT 01/01, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, berlangsung meriah, kemarin. Terlebih ada satu dari 30 kuluwung yang menjadi pusat perhatian warga. Namanya si Badak Mungkur.

METROPOLITAN – Kuluwung ini memiliki ukuran yang cukup fantastis. Panjangnya mencapai 9,5 kilometer dengan diameter hingga satu meter. Tak ayal bahwa kuluwung tersebut menjadi primadona dalam festival tahun ini. Apalagi mampu menghasilkan dentuman super dahsyat karena menimbulkan efek getar bagi siapa pun yang ada di sekelilingnya.

Meski demikian, tidak ada kesulitan dalam proses pembuatan meriam kayu raksasa tersebut, hanya butuh waktu dua hari. Jumlah perajin pun berkisar belasan orang. “Kalau tim inti (pegiat kuluwung, red) hanya 3-5 orang. Khusus untuk kuluwung raksasa ini (pegiat kuluwung, red) belasan orang. Warga dari manamana (wilayah Sukamakmur, red) banyak yang bantu,” kata pegiat kuluwung, Soleh Wijaya (60).

Jumlah biaya yang dikeluarkan dalam proses pembuatan meriam kayu raksasa itu pun terbilang murah. Hanya memang butuh pemahaman khusus soal menakar campuran karbit dengan air. Sebab, campuran antara karbit dengan air harus pas dan tepat. “Beda ukuran kuluwung sudah pasti beda racikan karbit dan airnya. Hanya itu saja kesulitannya, selebihnya tidak ada. Biayanya pun hanya Rp1 juta,” ucapnya.

Baca Juga  Ledakan Las Karbit Tewaskan Tiga Orang

Sementara itu, pagi kemarin sekitar pukul 06:00 WIB, Soleh Wijaya bersama rekannya, Khoerudin, terlihat sibuk memotong kayu-kayu kecil di sekitar kuluwung. Sambil menyalakan api dari sisa-sisa potongan kayu, keduanya mencoba menghalau dinginnya pagi itu. Kayu-kayu yang telah dipotong kecil berbentuk pipih digunakan untuk mengganjal ikatan-ikatan kuluwung agar tidak kendur.

Kuluwung-kuluwung yang disiapkan memang membutuhkan perawatan khusus. Usai dipakai pada hari pertama festival, Sabtu (17/6), dentuman-dentuman yang dihasilkan bisa membuat ikatan-ikatan pada kuluwung sedikit bergeser sehingga harus dikuatkan kembali. Soleh sendiri sudah lebih dari 30 tahun menjadi pegiat kuluwung. Menurutnya, keahlian membuat kuluwung diwariskan secara turun-temurun. Dahulu kala, saat usianya baru menginjak lima tahun, banyak warga di kampungnya yang memang sudah membuat kuluwung.

Baca Juga  Kesaksian Tukang Tambal Ban Saat Angin Kencang Tumbangkan Pepohonan di Yasmin

Bedanya, kuluwung kala ia kecil masih menggunakan bambu. Kemudian semakin berkembang menggunakan batang pepaya hingga drum bekas. Lambat laun, dunia perkuluwungan pun semakin berkembang. Warga mulai membuat kuluwung dari berbagai jenis kayu. ”Dulu masih pakai bambu, kemudian pohon pepaya dan berkembang jadi kayu. Dari kecil setiap Ramadan jelang Lebaran sampai usai Lebaran, warga di sini biasa membuat dan menyalakan kuluwung,” tutur Soleh.

Khusus untuk festival kali ini, kuluwung-kuluwung tak hanya didatangkan dari Desa Sukamulya atau Desa Sukamakmur. Kuluwung didatangkan dari desadesa tetangga karena memang tradisi kuluwung hampir ada di desa-desa di Sukamakmur.

Soleh menceritakan proses pembuatan kuluwung sebetulnya tidak terlalu sulit, hanya saja dibutuhkan pohon dengan usia rata-rata di atas sepuluh tahun. Kuluwung yang paling bagus biasanya terbuat dari kayu pohon kapas dan kayu pohon kolangkaling. ”Tantangannya memang dari bahannya, biasanya kita nyarinyari pohon yang ukuran besar. Makanya nyarinya nggak cuma di desa ini tapi di desa-desa lainnya juga,” terangnya.

Baca Juga  Hati-Hati Melintas di Jalanan Kota Bogor, 120 Pohon Masuk Kategori Merah

Usai mendapat pohon yang diinginkan, warga langsung menebangnya bersama-sama. Batang kayu tersebut lalu dibawa ke tempat lapang untuk digarap bersama-sama. Prosesnya, pohon yang sudah ditebang diambil kayunya sekitar 5-8 meter. Kayu tersebut lalu dibelah dua untuk memudahkan membuat lubang. Pembuatan lubang menggunakan alat pemotong kayu sehingga berbentuk segi empat. Setelah dua bagian dalam kayu memiliki lubang, kayu kembali digabungkan menjadi satu batangan. Agar sisi-sisinya kedap udara atau tidak bocor, digunakan kain untuk menyumpalnya. Setelah itu, batang kayu tersebut dililit tali dari bambu hingga kawat baja agar benar-benar menyatu.. (fin/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.