Nobar Adegan Ranjang, Bocah Sd Ditarif Rp5.000

by -

Entah setan apa yang merasuki pasangan suami istri (pasutri) E (25) dan L (24). Keduanya dengan sadar mempertontonkan hubungan intimnya kepada enam bocah. Hanya dengan biaya goceng atau Rp5.000, aksi intim warga Desa Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, itu ditonton secara langsung oleh para bocah.

METROPOLITAN – Lebih parahnya lagi, aksi tersebut dilakukan E dan L saat Bulan Ramadan. Para bocah itu juga dipersilakan merekam aksi intim keduanya. Warga yang mengetahui aksi itu geram dan langsung melaporkannya ke polisi. Kini, keduanya diamankan di Mapolres Tasikmalaya Kota. “Sudah menetapkan sebagai tersangka kemarin (Selasa, red) dan menahan keduanya,” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Dadang Sudiantoro.

Menurutnya, Polres Tasikmalaya Kota telah bertindak cepat setelah mendapat laporan terkait kasus pasutri yang mempertontonkan adegan ranjangnya kepada beberapa anak di bawah umur. Kepolisian pun telah mendapatkan cukup barang bukti sehingga kedua tersangka itu ditahan untuk pemeriksaan hukum lebih lanjut di Polres Tasikmalaya Kota. ”Kami sudah memiliki dua alat bukti,” katanya.

Setelah kelakuannya terendus warga, mereka pun kabur ke kawasan terpencil di kampungnya. Mereka kemudian hidup di sebuah kebun yang mereka garap untuk bertani. Sementara itu, kepolisian memberi tahu pihak keluarga pasutri terkait perbuatannya.

Baca Juga  Cinta Segitiga Antar Polisi Berujung Dengan Laporan Perzinaan

Setelah sepekan sejak pelariannya, pasutri itu akhirnya datang ke kantor polisi, Mapolsek Kadipaten. ”Mereka tinggal di kebun selama sepekan, setelah diinformasikan ke keluarga ada panggilan dari kami. Sepekan kemudian yang bersangkutan datang ke polsek,” paparnya.

Hasil pemeriksaan sementara, tambahnya, kedua tersangka tidak mengakui perbuatannya yang telah mempertontonkan adegan tidak pantas kepada anak di bawah umur. Sikap kedua tersangka itu merupakan haknya, namun kepolisian akan terus mendalami kasus tersebut. ”Itu hak tersangka mengaku atau tidak mengakui, kita tidak mengejar pengakuan,” ujarnya. Namun saat diperiksa polisi, L menangis sedangkan E terlihat lesu. Tak hanya itu, L juga sempat pingsan di depan pintu sel hingga harus dibopong anggota kepolisian.

Dadang Sudiantoro juga mengaku pihaknya telah mengumpulkan keterangan sejumlah saksi dan telah menetapkan keduanya sebagai tersangka. Berdasarkan keterangan saksi, pasutri itu meminta bocah SD mengumpulkan uang untuk membeli kopi dan rokok. ”Keduanya mengajak menonton pada anak-anak untuk saat mereka berhubungan badan syaratnya iuran membeli kopi dan rokok,” ungkapnya saat ditemui di Mapolresta.

Dadang mengaku pihaknya kini tengah mendalami motif pasutri melakukan hal tersebut. Ia mengatakan bahwa terdapat enam korban yang melihat adegan tersebut. ”Kemudian informasi bahwa ada dampak anak balita berusia tiga tahun yang nyaris jadi korban anak-anak yang menonton itu. Kami masih dalami,” ucapnya. Ia menuturkan, anak-anak melihat hubungan intim pasutri itu melalui jendela yang sengaja dibuka. ”Saat kelakuan mereka diketahui dan mulai ramai di masyarakat, mereka meninggalkan rumah. Tapi seminggu kemudian datang ke polsek lalu kami amankan,” tuturnya.

Baca Juga  Puluhan Kasus Kekerasan Anak Muncul Sepanjang 2021 di Bogor, KPAID : Ortu Kelelahan WFH saat Pandemi, Timbul Kekerasan Verbal

Akibat perbuatannya, keduanya akan dikenakan sanksi pidana Pasal 36 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan diancam sepuluh tahun penjara. Sementara itu, seorang bocah lelaki penonton pasutri pamer hubungan seks di Tasikmalaya buka suara soal kejadian tak lazim yang menggegerkan tersebut. Bocah berusia sepuluh tahun itu datang ke kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya. Bocah itu didampingi tokoh masyarakat, ulama dan pemerintah desa. Ia berniat meminta pendampingan hukum serta pemulihan psikologis kepada pihak KPAID. Anak itu mengaku tidak memiliki niat melihat adegan ranjang pasutri tersebut. Ia mengaku diajak teman sebayanya.

Bocah itu mengungkapkan bahwa pada Ramadan 2019 pernah satu kali melihat E dan L yang berada di kamar sedang berhubungan intim. Ia mengaku membayar Rp1.000 untuk menonton hubungan seks E dan L. Perbuatan tak pantas dipertunjukkan di hadapan anakanak itu berlangsung di kamar suami istri tersebut. ”Abi diajakan ku babaturan, mayar sarebu dan teu aya niat. Abi noong tina kaca kamar (saya diajak sama teman, bayar seribu dan tidak niat. Saya hanya melihat dari kaca kamar, red),” kata bocah itu berbahasa Sunda di kantor KPAID Tasikmalaya, kemarin.

Baca Juga  Nobar Jadi Pelekat Silaturahmi Tim RZ

Ia mengaku bersama lima bocah lainnya menyaksikan dengan mata telanjang ulah E dan L tersebut. KPAID mengungkapkan bahwa pasutri tersebut meminta bayaran kepada para bocah dengan bentuk uang hingga makanan.

Enam dari anak-anak yang menonton adegan ranjang tersebut, satu orang merupakan anak pelaku. ”Sesuai hasil investigasi kami, anak dari pelaku suami istri ini ternyata ikut menonton bareng adegan dewasa kedua pelaku bersama anak-anak lainnya,” jelas Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rianto. Kabar anak pelaku yang ikut menonton juga diungkap Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Dadang Sudiantoro. ”Dari pelapor memang anaknya ikut menonton, tapi dari para pelaku belum mengaku. Makanya kami masih terus perdalam kasus ini,” ungkapnya. (lip/dtk/ rez/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *