Tiap Tahun Banyak Istri Gugat Suami

by -

pertama di tahun ini, kasus perceraian di Kabupaten Sukabumi mengalami peningkatan. Pengadilan Agama Kabupaten Sukabumi mencatat dari periode Januari-Mei 2019 sedikitnya ada 795 kasus perceraian. Angka itu meningkat dibanding tahun sebelumnya.

PANITERA Muda Hukum Pengadi­lan Agama Cibadak Ade Rinayanti mengatakan, pada 2018 pada periode yang sama tercatat angka perceraian berjumlah 710 kasus. Lebih rendah dibanding pada tahun ini.

”Rata-rata perceraian terjadi akibat perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus. Kemudian bisa ka­rena faktor ekonomi, di mana pasangan meninggalkan salah satu pihak,” be­bernya, Jumat (21/6).

Ade menjelaskan, dari tahun ke tahun kasus perceraian di Kabupaten Suka­bumi terus mengalami peningkatan. Padahal pengadilan agama sebelum memutuskan perceraian selalu mela­kukan mediasi terlebih dahulu ke­pada kedua belah pihak, namun rata-rata mediasi yang dilakukan selalu mengalami kegagalan.

Baca Juga  Mentan Bagi-bagi 10 Juta Bibit ke Petani

”Upaya mediasi yang kami lakukan selalu gagal. Hanya sedikit yang ber­hasil hingga tidak terjadi perceraian,” jelasnya.

Ade menuturkan, rata-rata kasus perceraian pada periode Januari-Mei 2019 ini mengalami peningkatan se­kitar 20 persen, dengan cerai gugat yang dilakukan pihak perempuan berusia kisaran 30-35 tahun.

 ”Untuk menekan angka per­ceraian ini, ke depan diharap­kan peran penasihat perkawi­nan harus lebih optimal. Fungsi mediasi lembaga lokal seperti lembaga adat, juga to­koh agama, perlu lebih dilibat­kan lagi ke depannya,” pungkas Ade.

Sebelumnya, pada 2018, angka perceraian mencapai 1.698 kasus. Ketua Pengadilan Agama Cibadak Asep Mujta­hidin melalui Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Cibadak, Ade Rinayanti, men­jelaskan jumlah kasus pada 2018 sedikit lebih banyak di­banding 2017.

Baca Juga  Pengurus Anyar DPK Apindo Resmi Dilantik

”Pada 2017 jumlah kasusnya 1.240 laporan perceraian, ter­diri dari 1.019 cerai gugat dan 221 talak,” ujar Ade.

Kasus perceraian sepanjang 2018 paling banyak terjadi pada November, yakni sebanyak 225 kasus. ”Faktor perselisihan dan pertengkaran, juga ekonomi, yang dominan jadi penyebab perceraian,” tutur Ade.

Ade menegaskan, pengadilan agama selalu mengupayakan mediasi kepada pasangan yang hendak bercerai. Hal itu seba­gai upaya menekan tingkat perceraian.

”Ke depannya peran penasi­hat perkawinan harus lebih optimal. Fungsi mediasi lem­baga lokal seperti lembaga adat, juga tokoh agama, perlu lebih dilibatkan ke depannya,” pung­kas Ade. (skb/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.