Alami Kebutaan, Nenek 53 Tahun Ditinggal Kabur Suami di Gubuk Reot

by -
Tampak depan rumah Mak Emis

METROPOLITAN.id – Nasib malang dialami seorang nenek berusia 53 tahun di Bogor, Misna. Warga Kampung Jeprah RT01/01, Desa Jonggol Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor itu mengalami kebutaan sejak berusia 25 tahun. Yang lebih nahas, sang suami meninggalkannya seorang diri di gubuk reot yang nyaris roboh sejak mengetahui sang istri tak dapat melihat.

Perempuan yang akrab disapa Mak Emis ini mulanya hanya mengalami gatal pada mata sebelah kiri ketika usianya menginjak 25 tahun. Setahun kemudian, mata sebelah kanannya ikut merasakan hal serupa hingga akhirnya benar-benar mengalami kebutaan.

Sebetulnya, Mak Emis sempat memiliki tiga anak. Namun, ketiganya meninggal di usia 7 tahun, 10 tahun dan 20 tahun. Akibatnya, ia hanya tinggal seorang diri berkawan sepi tanpa suami yang entah di mana keberadaannya.

“Sebelum ditinggal suaminya, Mak Emis punya anak tiga. Namun tidak lama kemudian anaknya itu meninggal pada usia 7,10 dan 20 tahun,” kata salah seorang tetangga, Oom Komalasari (47).

Baca Juga  Jembatan Alternatif Cipamingkis Kecamatan Jonggol Dihapus
Gubuk reot yang ditempati Mak Emis di Kampung Jeprah RT01/01, Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor.

Saat ini, Mak Emis hidup dalam kondisi memprihatinkan. Ia hanya menempati gubuk reot dengan bilik bambu. Parahnya, kayu-kayu penahan atap dari genteng hampir seluruhnya dalam keadaan keropos. Sejumlah sisi atapnya terlihat sudah ambrol dan benar-benar nyaris roboh.

Tak hanya itu, bilik bambu yang digunakan sudah lapuk dimakan usia dan meninggalkan bolong di mana-mana. Gubuk tersebut sama sekali tak layak disebut sebagai tempat tinggal karena tinggal menunggu kehancuran.

Di bagian dalam, tidak ada kasur empuk untuk Mak Emis beristirahat. Ia hanya menggunakan spanduk bekas iklan rokok untuk melapisi sedikit busa untuk alas tidurnya. Ruangan tempat tidurnya pun menyatu dengan kamar mandi dan dapur yang hanya disekat terpal.

Baca Juga  DP3AP2KB Gelar Sosialisasi Kecamatan Layak Anak

Lima tahun lalu, gubuk reot itu pernah runtuh sebagian. Namun, tidak ada perbaikan berarti di gubuk seluas 6×7 meter itu.

Beruntung, saat hujan tiba, Oom selalu menjemput Mak Emis untuk diungsikan ke rumahnya. Oom sendiri memang sering mengurus Mak Emis yang untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan memang hanya mengandalkan uluran tangan. Oom sudah menganggapnya sebagai orang tuanya sendiri.

“Kalau mau hujan, saya buru-buru jemput emak. Kasian, tinggal di situ. Tidak kebayang hujan gimana kondisinya,” ungkap Oom.

Warga lainnya Alek Jamhari (40) menuturkan, selain bangunannya yang sudah reot, gubuk tersebut nyaris tertimpa pohon nangka.

“Miris kalau lihat kondisinya. Untuk makan aja setiap hari dari tetangga,” ujar Alek.

Dirinya berharap pemerintah setempat sigap menangani persoalan ini. Pemerintah tidak boleh tinggal diam dan menutup mata atas kondisi warganya yang memang benar-benar membutuhkan uluran tangan.

Baca Juga  Terancam Turun Kasta, Persikabo Incar Pemain Porda

“Saya sangat sedih lihatnya, tapi mudah-mudahan saja ada perhatian dari pemerintah setempat. Karena si emak itu tingggal sendiri semenjak cerai 30 tahun lalu, anaknya sudah pada meninggal,” bebernya.

Mak Emis saat berada di dalam gubuk reot yang dihuninya.

Sementara itu, Mak Emis mengaku sempat ada petugas desa datang ke gubuknya dan mengambil foto-foto. Namun setelah itu tidak ada perubahan apapun. Saat mencoba mengingat-ingat, dirinya mengaku pernah mendapat bantuan beras. Itu pun 6 tahun lalu dan tidak pernah mendapatkannya lagi.

“Dulu ada orang desa kesini foto-foto udah lama. Pernah juga emak dapet bantuan beras 6 tahun tapi sampai sekarang nggak dapat lagi,” pungkas Mak Emis. (mul/c/fin)

Lihat videonya di sini: 

Leave a Reply

Your email address will not be published.