Bogor Darurat ODGJ

by -

METROPOLITAN – Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) belakangan ini kerap meresa­hkan masyarakat. Pasalnya, mereka seringkali melakukan sejumlah aksi kriminal. Se­perti yang dilakukan wanita pembawa anjing ke dalam Masjid Al-Munawaroh Sentul City berinisial SM dan Nasrudin, kakak yang tega menikam adiknya hingga tewas.

Berdasarkan data Dinas Kese­hatan (Dinkes) Kota Bogor pada 2018, total ODGJ menca­pai 997 orang. Sementara jika mengacu data di RSMM Kota Bogor mencapai 672 pasien rawat jalan. Sedangkan rawat inap mencapai 2.807 pasien. Sementara pasien yang sifatnya kunjungan mencapai 4.384 orang dan 12.015 untuk rawat inap.

Kepala Subbagian Hukum dan Organisasi Masyarakat RSMM Kota Bogor, Dian, men­gatakan, hampir setiap tahun pihaknya kerap melayani se­jumlah pasien dari berbagai daerah. Namun jika mengacu data yang ada, dalam satu tahun rata-rata RSMM melayani ODGJ sekitar 12.500 pasien dalam setahun. “Biasanya per tahun kita melayani di atas 10.000 pasien, di bawah 15.000. Itu untuk pasien asal Kota Bo­gor ya, belum pasien dari dae­rah lain,” kata Dian kepada Metropolitan, kemarin.

Tingginya angka ODGJ di Kota Hujan hingga maraknya kasus kriminal yang dilakukan orang dengan keterbelakangan mental tersebut, tentu sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Sementara itu, Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Tradisional pada Dinas Kesehatan, Armein, menjelas­kan, secara umum tindak kri­minal yang dilakukan ODGJ tidak bisa semata-mata disebut tindakan kriminal. Sebab, ke­tika ODGJ melakukan sebuah tindakan, mereka melakukan hal tersebut diluar kesadaran. “Mereka mengalami kerapuhan mental dan daya pikir, sehing­ga apa pun yang mereka laku­kan kadang menjurus diluar orang waras. Jadi, itu bukan tindak kriminal, tapi efek gang­guan jiwa itu sendiri,” ujarnya.

Secara umum, sambung dia, gangguan jiwa terbagi dalam dua kategori, depresan dan maniacal. Depresan adalah sebuah kondisi di mana se­seorang mengalami gangguan jiwa dengan tingkat rendah. Sedangkan maniacal, mereka rata-rata bertindak arogan ba­hkan sulit dikendalikan. Hal ini bisa masuk kategori neo­rosa, seperti depresi dan cemas. Beda halnya dengan psikosa.

“Kalau neorosa seperti cemas atau depresi tak terlalu berbahaya, namun tetap butuh perawatan. Yang berbahaya itu psikosa, ini harus segera ditangani serius atau dilarikan ke rumah sakit jiwa dengan segera,” bebernya.

 (ogi/c/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *