Sakit, RY Batal Diperiksa KPK

by -

METROPOLITAN – Kasus dugaan pemotongan angga­ran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan gratifi­kasi oleh mantan Bupati Bogor Rachmat Yasin (RY) masih diusut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kemarin, lembaga antirasuah itu telah memanggil kakak kandung Bupati Bogor Ade Yasin, namun yang bersangkutan tidak hadir.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengungkapkan, RY tidak menghadiri pemanggilan perdananya sebagai tersangka karena sakit. ”RY (tersangka pungutan liar dan gratifikasi oleh bupati Bogor, red), meminta penjadwalan ulang karena sedang sakit,” ujarnya di Gedung Putih KPK, Jakarta, Jumat (5/7). Penyidik KPK juga memeriksa empat tersangka lainnya terkait kasus yang menjerat RY. Mereka adalah mantan Kepala Badan Perizinan Terpadu Bogor Udin Syamsudin dan Kepala Seksi Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Bogor Rahmat Mulyana.

Baca Juga  Menanti Angpao di Hari Imlek

Selain itu, Pegawai Dispenda Kabupaten Bogor Sri Hartati dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bogor Syarifah Sofiah Dwikorawati. ”Penyidik mendalami keterangan saksi terkait pemotongan anggaran yang dianggap utang oleh tersangka RY,” beber Febri. Sebelum kembali ditetapkan sebagai tersangka kembali oleh KPK, RY baru saja Cuti Menjelang Bebas (CMB) pada Rabu (8/5/2019). KPK menduga RY melakukan pungutan liar dari beberapa SKPD dengan nilai miliaran rupiah. Uang itu diduga untuk biaya operasional bupati dan kebutuhan dana kampanye pilkada dan pemilu legislatif pada 2013-2014. ”RY diduga meminta, menerima atau memotong pembayaran dari sejumlah SKPD sebesar Rp8.931.326.223,00,” papar mantan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) itu.

Baca Juga  Gara-gara Fortuner Maut, Ahok Obrak-abrik Kalijodo

Tidak hanya itu, KPK juga menduga RY menerima gratifikasi berupa tanah dan satu unit mobil Toyota Vellfire. Tanah dan mobil mewah tersebut tidak dilaporkan RY selama 30 hari kerja ke komisi antirasuah. ”RY diduga menerima gratifikasi yaitu berupa tanah seluas 20 hektare di Jonggol, Kabupaten Bogor, dan mobil Toyota Vellfire senilai Rp825 juta,” tutur Febri. Atas perbuatannya, RY disangkakan melanggar Pasal 12 huruf f dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP. (bs/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.