Mantan Kekasih Jadi Ayah Tiri

by -

METROPOLITAN –  Tidak banyak orang yang mengalami kisah hidup seperti yang aku alami. Bagaimana tidak, kekasih yang kucintai harus aku panggil Ayah setelah dia menikah dengan Ibuku. Namaku Ratna Sapitri tapi panggi­lanku sehari-hari adalah Dewi. Ayahku sudah meninggal sejak aku masih kecil, sehingga praktis yang merawatku adalah Ibuku seorang diri.

Dulu sebelum aku menikah dengan bapaknya anak-anak­ku, aku memiliki seorang kekasih yang begitu aku cintai tapi sayang perjalanan cintakami tak sampai ke pelami­nan karena saat itu usiaku masih terlalu dini dan belum siap untuk menikah.

Akhirnya kami pun terpisah, aku pergi ke Jakarta untuk bekerja dan dia aku tinggalkan tanpa satu kata pesan apapun juga.Dua tahun ber­lalu aku tak pernah bertemu dan tak sedikit pun kabar ku berikan padanya.

Pada satu hari aku mendapat telepon dari kampung bahwa aku harus pu­lang. Tanpa ada curiga, aku pulang dan ketika sampai di rumah, aku tak melihat sosok ibuku. Aku bertanya, paman di mana mamah ko gak ada di rumah, di mana dia sekarang?

Tapi pamanku hanya diam mem­bisu, tiba-tiba bibiku mengajak aku pergi ke satu rumah, rumah itu sudah tidak asing lagi buat aku. Ya itu rumah kekasihku yang selama 2 tahun ini aku tinggalkan.

Aku terkejut ketika aku menatap kedua sosok manusia yang paling aku cintai tengah berbincang dan duduk bermesraan. Air mataku mulai men­galir deras ketika bibiku berkata bahwa mereka telah menikah. Ya Tuhan mengapa harus dia yang kau cintai? Mengapa harus mamahku yang dia pilih?

Sejak saat itu hidupku bener-bener larut dalam keterpurukan. Kehidupan malam jadi tempat pelarianku, aku tak perduli orang bilang apa karena mereka tidak mengerti apa yang aku rasakan saat itu. Hanya kesedihan dan benci yang berkecamuk di piki­ranku. Sampai suatu hari aku men­dengar kata-kata cinta dari seorang lelaki yang biasa nemenin aku di klub, dia mau mengeluarkan aku dari du­nia kelam itu.

1, 2, 3 bulan berlalu akhirnya aku naik ke pelaminan bersama pria itu meskipun dalam hatiku tak ada cinta tapi aku harus hidup bersamanya karna aku telah mengandung anaknya.

Tapi hanya kegelisahan yang kura­sakan dalam kehidupan rumah tang­gaku. Sepertinya aku belum bisa memaafkan mamahku. Setiap kali ada masalah dengan suami, aku selalu menyebut-nyebut nama ma­mahku dan menuduh suamiku sama saja dengan kekasih pertamaku.

Ya Allah hanya engkau yang tahu ber­dosakah aku kepada Ibuku? Karna aku ga bisa menghapus rasa kesalku pada­nya, meskipun itu telah berlalu, meski­pun aku telah memiliki kehidupan baru bersama suamiku. (cer/rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *